National Conference On Economic Education Agustus 2016 ISBN: 978-602-17225-5-8 131 LESEHAN SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN EKONOMI Ambar Sunarsih 1) , Mit Witjaksono 2) , Sunaryanto 3) 1 Pendidikan Ekonomi-Pascasarjana Universitas Negeri Malang SMK Ma’arif NU Mantup Lamongan Email : sunarsihambar@yahoo.co.id 2 Pascasarjana Universitas Negeri Malang Email : mitrojoyo@gmail.com 3 Pascasarjana Universitas Negeri Malang Email : sunaryanto.fe@um.ac.id Abstrak Sebagian besar peserta didik beranggapan bahwa mata pelajaran ekonomi tidak menarik, banyak menghafal dan sulit dipahami. Salah satu penyebabnya adalah pengelolaan kelas yang belum optimal oleh guru. Pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dikelola secara efektif dan terpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang efektif dapat tercipta bila peserta didik memiliki kesempatan untuk mengungkapkan gagasannya sekaligus mengkomunikasikan dan mendiskusikannya dengan sesama maupun dengan gurunya. Model pembelajaran lesehan menjadi alternatif yang bisa dilakukan guru dalam mengelola pembelajaran ekonomi di kelas menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa. Makna lesehan menjadi dasar dalam pengelolaan pembelajaran ekonomi. Pembelajaran ekonomi didesain sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna bagi siswa, pembelajaran berlangsung secara kooperatif dan kolaboratif, dapat menginternalisasi nilai-nilai kekeluargaan dan demokrasi dalam partisipasi belajar. Kata Kunci: Pembelajaran ekonomi, Lesehan Pemberian materi ekonomi yang berupa hafalan teori dapat mematikan daya pikir dan kreatifitas siswa, selain itu hafalan teori hanya bersifat ingatan jangka pendek. Pembelajaran ekonomi sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik yang selalu melakukan aktivitas ekonomi. Peserta didik akan mengalami kesulitan ketika mereka harus memecahkan permasalahan ekonomi dalam jangka panjang. Penelitian di Fransisco mengidentifikasi persepsi peserta didik terhadap mata pelajaran ekonomi diantaranya adalah bahwa pembelajaran ekonomi terlalu membosankan, sangat abstrak, dan tinggi penekanan pada hafalan (Ellis, Sundmacher & Varua, 2011). Sementara di Indonesia dalam studinya, Nuraini (2014) 70,20% peserta didik mengalami kesulitan dalam belajar ekonomi; 64,88% peserta didik tidak menyukai metode yang digunakan oleh guru; 60% peserta didik merasa tidak memperoleh kesempatan dari guru