Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448 334 Studi Deskriptif tentang Psychological Well-Being pada Tunadaksa di Komunitas Kreativitas Difabel Bandung Descriptive Study of Psychological Well-Being on the Physically Disabled in Komunitas Kreativitas Difabel Bandung 1 Ayu Paramita, 2 Eni Nuraeni Nugrahawati 1,2 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung,Jl. Tamansari No. 1 Bandung 40116 email : 1 ayuparamita31@gmail.com, 2 enipsikologi@gmail.com Abstract. Many obstacles and constraints faced by physically disabled, such as mobility difficulties, many people who underestimate, which then impact on a psychological and potential development. Contrast with that situation, despite a physical disability, low levels of education and economic conditions, and face many obstacles in life, 12 physically disabled in Komunitas Kreativitas Difabel (KKD) Bandung still be able to develop the potential and skills, even trying to help others. It is associated with psychological well- being (PWB), the full achievement of the potential of a person and a situation when people can accept his strengths and weaknesses, having a purpose in life, develop positive relationships, become an independent person, able to control the environment, continue grow personally (Ryff, 1989). This research was conducted to get an idea of the PWB on physically disabled in KKD Bandung, at physically disabled who can develop potential despite many obstacles. The research used descriptive method. This study used a population study, which examined 12 people with physically disabled. Data collection tool used a adapted questionnaire from the psychological well-being scale of Ryff (1989). Based on the results of the research was found ten people (83,3%) showed high PWB, and two people (16,7%) showed low PWB. Keywords : Psychological Well-Being, Physical Disability, Difabel Abstrak. Banyak hambatan dan kendala yang dihadapi penyandang tunadaksa, misalnya kesulitan mobilitas, masih banyak masyarakat yang meremehkan, yang kemudian berdampak pada psikologis dan pengembangan potensi seseorang. Berbeda dengan keadaan tersebut, meskipun mengalami cacat fisik, kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah, serta menghadapi berbagai hambatan dalam hidup, sebanyak 12 tunadaksa di Komunitas Kreativitas Difabel (KKD) Bandung tetap dapat mengembangkan potensi dan keahliannya, bahkan berusaha membantu orang lain yang membutuhkan. Hal ini terkait dengan psychological well-being (PWB), yaitu pencapaian penuh dari potensi seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi positif, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan lingkungan dan terus tumbuh secara personal (Ryff, 1989). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran PWB pada tunadaksa di KKD Bandung, sehingga didapat data mengenai PWB pada tunadaksa yang tetap dapat mengembangkan potensi meskipun mengalami banyak kendala. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan studi populasi, yaitu meneliti 12 penyandang tunadaksa. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner yang diadaptasi dari psychological well-being scale dari Ryff (1989). Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa sebanyak sepuluh orang (83,3%) menunjukkan PWB tinggi, dan sebanyak dua orang (16,7%) menunjukkan PWB rendah. Kata Kunci : Psychological Well-Being, Tunadaksa, Difabel A. Pendahuluan Menurut Word Health Organization (WHO), penyandang disabilitas merupakan kelompok minoritas terbesar di dunia. Sekitar 80 persen dari jumlah penyandang disabilitas di dunia berada di negara-negara berkembang. Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebanyak 6.008.661 jiwa. Berdasarkan data tersebut, terdapat tiga jenis penyandang disabilitas dengan jumlah terbanyak di Indonesia adalah penyandang disabilitas ganda, netra, dan tubuh. Penyandang disabilitas tubuh atau tunadaksa merupakan salah satu jenis