Peningkatan Kadar Bijih Besi Batubessi Kec. Barru Kab. Barru Dengan Metode Pemisahan Magnetik : 85 - 89 Jurnal GEOSAPTA Vol. 7 No.2 Juli 2021 85 PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI BATUBESSI KEC. BARRU KAB. BARRU DENGAN METODE PEMISAHAN MAGNETIK Muhammad Idris Juradi *1 , Hasbi Bakri 2 , Firman Nullah Yusuf 3 , Sitti Ratmi Nurhawaisyah 4 , Suriyanto Bakri 5 , Muh. Hardin Wakila 6 1-6 Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas MuslimIndonesia e-mail:*muhidris.juradi@umi.ac.id ABSTRAK Indonesia memiliki potensi endapan bijih besi yang besar, namun hal ini tidak diimbangi dengan instrument yang memadai, sehingga Negara Indonesia harus mengimpor instrument yang dibutuhkan, instumen yang dipakai memiliki sistem yang cukup sederhana dan bisa dikembangkan oleh sumber daya manusia yang dimiliki Negara Indonesia. Salah satu alat yang digunakan dalam proses pemisahan mineral berharga dengan pengotornya berdasarkan sifat kemagnetan yaitu Magnetic separator. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik bijih Besi di Desa Batubessi serta mempelajari pengaruh ukuran partikel terhadap peningkatan kadar dan recovery besi pada proses pemisahan magnetik. Metodologi penelitian yang dilakukan adalah metode induktif yang menggunakan pendekatan kombinasi antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, dengan memadukan hasil-hasil kajian pustaka, data lapangan, serta hasil-hasil penelitian laboratorium yang keseluruhannya dikaji, dianalisis, dan disintesis secara komprehensif untuk menyimpulkan rangkaian penelitian yang telah dilakukan. Hasill karakteristik bijih besi asal daerah Batubessi Kabupaten Barru Sulawesi Selatan berdasarkan hasil analisis XRD dan XRF mengandung mineral quartz (SiO2), goethite (FeO(OH)) magnetite (Fe3O4) dan braunite (Mn7SiO12). Berdasarkan komposisi kimia dimana mineral goethite (FeO(OH)) dan magnetite (Fe3O4) merupakan mineral pembawah unsur besi. Dengan komposisi unsur Fe2O3 73,863%, SiO2 21,539%, SO3 4,104%, CaO 0,219%, MnO 0,211% dan CuO 0,043%. Hasil pemisahan magnetik menunjukan peningkatan kadar Fe2O3 untuk masing-masing fraksi ukuran. Kadar Fe2O3 pada fraksi 100 mesh sebanyak 83,656% dengan nilai recovery 70,220%, kadar Fe2O3 pada fraksi 150 mesh sebanyak 85,429% dengan nilai recovery 76,890% dan kadar Fe2O3 pada fraksi 200 mesh sebanyak 83,291% dengan nilai recovery 80,514%. Secara keseluruhan semua fraksi ukuran mengalami peningkatan kadar Fe2O3 sebanyak ±10%. Kata-kata kunci: Bijih besi, Ukuran partikel, Kadar, Recovery, Pemisahan magnetik PENDAHULUAN Indonesia memiliki potensi pertambangan bijih besi yang besar, namun hal ini tidak diimbangi dengan instrument yang memadai, sehingga Negara Indonesia harus mengimpor instrument yang dibutuhkan, instumen yang dipakai memiliki sistem yang cukup sederhana dan bisa dikembangkan oleh sumber daya manusia yang dimiliki Negara Indonesia. Salah satu alat yang digunakan dalam proses pemisahan mineral berharga dengan pengotornya berdasarkan sifat kemagnetan yaitu Magnetic separator (Kementrian ESDM, 2019). Untuk dapat meningkatkan kadar besi yang tinggi, pada saat ini hampir 90% dari proses konsentrasi besi menggunakan metode pemisahan magnetik. Proses konsentrasi bijih besi lebih banyak dilakukan oleh magnetic separator karena besi merupakan unsur yang sifat kemagnetannya sangat baik, sehingga lebih efisien untuk konsentrasi dengan menggunakan metode ini (Rachmat, 2015). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik sampel bijih besi di desa Kadong-Kadong dan pengaruh ukuran partikel terhadap peningkatan kadar dan recovery besi pada proses pemisahan magnetik. METODOLOGI Metodologi penelitian yang dilakukan adalah metode induktif yang menggunakan pendekatan kombinasi antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, dengan memadukan hasil-hasil kajian pustaka, data lapangan, serta hasil-hasil penelitian laboratorium yang keseluruhannya dikaji, dianalisis, dan disintesis secara komprehensif untuk menyimpulkan rangkaian penelitian yang telah dilakukan Sampel bijih besi yang digunakan berasal dari daerah Batubessi Kabupaten Barru dengan kenampakan singkapan bijih besi dapat dilihat pada Gambar 1. Sebanyak 3500 gram sampel tersebut dilakukan preparasi untuk menghasilkan ukuran 100, 150 dan 200 mesh yang nantinya digunakan untuk analisis awal dan sebagian dijadikan umpan pada percobaan. Kegiatan preparasi dapat dilihat pada Gambar 2. Analisis awal meliputi X-Ray Fluoroscence (XRF) dan X-Ray Diffraction (XRD) dengan tujuan untuk mengetahui mineral-mineral pembawah unsur besi dan kandungan besi pada sampel yang digunakan. Proses pemisahan pada penelitian ini dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali pada sampel yang memiliki fraksi ukuran berbeda. Proses pemisahan dengan alat magnetic separator seperti yang terlihat pada Gambar 3 menggunakan kondisi operasional, drum kondisi kering dan intensitas rendah (dry-low intensity drum magnetic separator) dengan nilai intensitas magnetnya sebesar 0,5 T, umpan sebanyak 500 gr, kecepatan putar drum 400 rpm dan waktu proses konsentrasi 15 menit. Pada kondisi operasional ini dilakukan variasi ukuran partikel 100, 150 dan 200 mesh. Tahap akhir pada kegiatan ini adalah mengetahui kadar besi pada fraksi magnetik dan fraksi non magnetik hasil pemisahan magnetik dengan menggunakan analisis X-Ray Fluoroscence (XRF). Diagram alir percobaan pemisahan magnetik dapat dilihat pada Gambar- 4.