Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora
Vol. 20. No.2, Desember 2015
ISSN 2442-3424
-30-
FISIP Universitas Tanjungpura ©2015, Jurnal Proyeksi
http://jurmafis.untan.ac.id/index.php/Proyeksi Hatta Yurli, 30-37
MODEL PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT MISKIN PERKOTAAN
(Studi Kasus Pemberdayaan Warga Miskin melalui KUBE di Kota Pontianak)
M. Hatta Yurli
1
, Haryo S. Martodirdjo, Soni A. Nulhaqim
2
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang model pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan, studi kasus pemberdayaan warga
miskin melalui melalui KUBE di Kota Pontianak. Masalah penelitian meliputi untuk mengetahui karakteristik kemiskinan
perkotaan di Kota Pontianak, bagaimana peran dan fungsi pendamping dalam membentuk warga miskin agar dapat
melakukan pola pemberdayaan masyarakat serta pembinaan KUBE pada warga miskin. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian kualitatif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisipasi dan
studi dokumentasi. Pendekatan teori yang digunakan adalah teori pembangunan sosial dan sistem sosial.
Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa bantuan KUBE kepada masyarakat miskin tidak menunjukan upaya
penanganan kemiskinan, bahkan bantuan tersebut mengarah pada ketidaktepatan sasaran, dimana penerima bantuan KUBE
tersebut sudah memiliki usaha sebelum mendapat bantuan, dan mereka rata-rata tidak masuk dalam kriteria penerima
bantuan KUBE. Peran pendamping yang tidak fokus dalam menjalankan tugasnya secara professional.
Terkait dengan model pemberdayaan masyarakat miskin diperkotaan ada 4 tahapan pengembangan yaitu : tahap
pengembangan potensi (potensial development), tahap menghimpun potensi masyarakat (potensial rekrutmen), tahap
partisipasi sosial (social participation) dan tahap kemandirian (independence).
Peran masyarakat yang merupakan kekuatan lokal dapat membangun pola pemberdayaan masyarakat itu sendiri dengan
bersandarkan pada prinsip ekologi dan keadilan sosial, serta menjunjung tinggi nilai-nilai HAM dengan membangun suatu
pola partisipasi masyarakat secara alami.
Kata Kunci : Kemiskinan, Pemberdayaan masyarakat, KUBE
Pendahuluan
enanggulangan masalah kemiskinan
tidak saja merupakan salah satu program
yang sangat serius ditangani oleh
pemerintah Indonesia, Negara-negara maju dan
berkembang diseluruh dunia juga memiliki
problem yang sama dalam mengatasi masalah
kemiskinan di negaranya masing-masing. Hal
ini ditandai dengan diadakannya pertemuan
puncak Deklarasi Millenium yang dilakukan
pada bulan September tahun 2000, dimana
Pemerintah Indonesia, bersama-sama dengan
189 negara lain di dunia berkumpul untuk
menghadiri Pertemuan Puncak Millennium
Development Goals (MDGs) di New York dan
menandatangani Deklarasi Milenium.
Deklarasi tersebut berisi komitmen negara
masing-masing dan komunitas internasional
untuk mencapai 8 (delapan) buah sasaran
pembangunan dalam Milenium ini, sebagai
satu paket tujuan terukur untuk pembangunan
dan pengentasan kemiskinan. Delapan buah
1
Corresponding author, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, m.hattayurli@yahoo.com
2
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran
sasaran pembangunan dimana program
pengentasan kemiskinan masuk dalam salah
satu kategori 8 (delapan) program tantangan
pembangunan dunia dengan isu yang muncul
adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan
yang ekstrim. Indonesia sebagai Negara yang
merupakan negara yang memiliki
permasalahan kemiskinan yang cukup parah
dengan jumlah penduduk miskin sebesar
31.023,4 juta jiwa atau sebesar 13,33 % pada
tahun 2010 sesuai data BPS tahun 2010.
(bpshq@bps.go.id)
Salah satu upaya menjawab tantangan
pembangunan pada MDGs pada tahun 2015,
prioritas pembangunan nasional saat ini
difokuskan pada tiga strategi pokok yang
dikenal dengan Triple Tract Strategy, yaitu
upaya mengurangi pengangguran, pengentasan
kemiskinan, dan peningkatan pertumbuhan.
Satu alternatif program pemerintah dalam
mengatasi problem kemiskinan di Indonesia
yang dilakukan oleh Kementrian Sosial
Republik Indonesia yaitu yang masuk pada
P