INFOTEKJAR : JURNAL NASIONAL INFORMATIKA DAN TEKNOLOGI JARINGAN- VOL. 4 NO. 1 (2019) EDISI SEPTEMBER Available online at : http://bit.ly/InfoTekJar InfoTekJar : Jurnal Nasional Informatika dan Teknologi Jaringan ISSN (Print) 2540-7597 | ISSN (Online) 2540-7600 https://doi.org/10.30743/infotekjar.v4i1.1633 Attribution-NonCommercial 4.0 International. Some rights reserved Implementasi Algoritma K-Means Dalam Penentuan Prioritas Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Cipunagara Odi Nurdiawan 1 , Fidya Arie Pratama 2 1 Dosen Program Studi Manajemen Informatika, STMIK IKMI Cirebon, Indonesia. 2 Dosen Program Studi Komputerisasi Akuntansi, STMIK IKMI Cirebon, Indonesia KEYWORDS ABSTRACT Daerah Aliran Sungai, Algoritma K-Means Clustering, Lahan Kritis Kekeringan salah satu kejadian yang sering terjadi pada wilayah indramayu bagian barat, rehabilitasi daerah aliran sungai menjadi salah satu alternatif. Lahan lahan wilayah subang - indramayu dalam keadan kritis, maka perlu dilakukan pengelompokan wilayah lahan kritis menggunakan algoritma k- means, sehingga mudah dalam menentukan prioritas rehabilitasi daerah aliran sungai. Penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap diantaranya Tahap 1 (Satu) pada tahap penelitian ini menentukan objek penelitian, yang akan dijadikan objek yaitu kelompok budidaya pertanian dan Bina Pengelola Daerah Aliran Sungai, kemudian dilakukan rumusan masalah. Tahap 2 (Dua) mengumpulkan data primer yang akan dilakukan pre-processing. Tahap 3 (Tiga) penerapan algoritma k-means dan Parameter data yang berpengaruh dalam menentukan tingkat kekritisan lahan yaitu skor penutupan lahan, skor lereng, skor erosi, skor produktivitas dan skor manajemen. Sehingga diketahui kelompok wilayah lahan kritis yang tinggi. Hasil penelitian ini rehabilitasi daerah aliran sungai cipunagara dengan menggunakan metode algoritma k-means dapat menghasilkan kumpulan cluster dengan indeks Davies-Bouldin terkecil kumpulan cluster terbaik adalah cluster_1 dengan nilai 1886.707. CORRESPONDENCE Phone: 085 868 991 405 E-mail: odynurdiawan@gmail.com PENDAHULUAN Kekeringan merupakan salah satu masalah lingkungan hidup yang secara spesifik dihadapi daerah indramayu yang setiap tahun terjadi. Hal ini tentu saja mengganggu kegiatan pertanian masyarakat, terlebih diketahui bahwa potensi Kabupaten subang-indramayu banyak terletak pada hasil pertanian seperti padi. Ketersediaan sumber air salah satu kebutuhan, mengingat selain potensi unggulan pada bidang pertanian memerlukan air cukup banyak. Daerah aliran sungai cipunagara adalah salah satu alternatif sebagai sumber air tidak bisa manampung air dalam debit yang banyak, di beberapa daliran sudah mengalami kerusakan[8-9] Berdasarkan identifikasi dan pemetaan lahan kritis di daerah aliran sungai cipunagara ditentukan berdasarkan parameter Perdirjen BPDASPS Nomor P.4/V-Set/2013 ialah wilayah daerah aliran sungai cipunagara dibagi menjadi 3 kawasan utama yaitu kawasan hutan lindung, kawasan budidaya pertanian dan kawasan lindung di luar hutan serta hutan produksi. Data kawasan pada tabel 1 menjelaskan bahwa Kawasan Budidaya Pertanian memiliki luas 106.801,47 Hektar, Kawasan Hutan Lindung memiliki luas 7.153,24 Hektar, dan kawasan hutan produksi memiliki 19.687,35 Hektar serta Kawasan lindung diluar 2.226,44 Hektar. Maka dari data tersebut Kawasan Budidaya Pertanian sangat dominan diwilayah subang dan indramayu serta wilayah yang dialiri sungai cipunagara. Hal tersebut menjadi salah satu sumber air bagi petani [4-5] Tabel 1 Kawasan DAS Cipunagara No Kawasan Luas (Ha) 1 Budidaya Pertanian 106.801,47 2 Hutan Lindung 7.153,24 3 Hutan Produksi 19.687,35 4 Lindung diluar Kawasan 2.226,44 TOTAL 135.868,50 Tabel 2 Parameter Tingkat Lahan Kritis No Parameter Penentuan Lahan kritis HL BP KLLH dan HP 1 Penutupan Lahan √ - √ 2 Produktivitas - √ -