Procedia of Engineering and Life Science Vol. 1. No. 2 Juni 2021 Seminar Nasional & Call Paper Fakultas Sains dan Teknologi (SENASAINS 2 nd ) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Organoleptic Characteristics of Mustard Flour (Brassica Juncea L) Packaged in Polyethylene and Polypropylene Packaging Karakteristik Organoleptik Tepung Sawi (Brassica Juncea L) yang Dikemas Dalam Kemasan Polietilen dan Polipropilen Deni Windarti 1 , Ida Agustini Saidi 2 {deniwindarti16@gmail.com 1 , idasaidi@yahoo.com 2 } Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Abstract. This study aims to determine the changes in the characteristics of mustard flour by using organoleptics as a parameter of the assessment. Mustard flour is stored for 42 days with 2 types of plastic packaging, namely polypropylene and polyethylene. With 3 levels of storage temperature used are 20 o C, 30 o C and 40 o C. Organoleptic tests conducted among others color, aroma and sow power tests. Based on the tests that have been done, mustard flour undergoes changes in each temperature and type of packaging. Based on the research that has been done, mustard flour at all temperature levels and 2 types of packaging used during the storage process decreased.The best storage temperature on each package is 40 o C and the best packaging for mustard flour is Polypropylene packaging. Keywords Mustard Flour; Organoleptic Test; Packaging Abstrak. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan karakteristik tepung sawi dengan menggunakan organoleptik sebagai parameter pengujian. Tepung sawi disimpan selama 42 hari dengan 2 jenis kemasan plastik yaitu polipropilen dan polietilen. Dengan 3 taraf temperatur penyimpanan yang digunakan yaitu 20 o C, 30 o C dan 40 o C. Uji organoleptik yang dilakukan antara lain uji warna, aroma dan daya tabur. Berdarakan pengujian yang telah dilakukan, tepung sawi mengalami perubahan pada masing-masing temperatur dan jenis kemasan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,tepung sawi pada semua taraf temperatur dan 2 jenis kemasan yang digunakan selama proses penyimpanan mengalami penurunan. Temperatur penyimpanan terbaik pada masing-masing kemasan adalah 40 o C dan kemasan terbaik untuk tepung sawi adalah kemasan Polipropilen. Kata Kunci Tepung Sawi; Uji Organoleptik; Kemasan I. PENDAHULUAN Sawi (Brassica Juncea L.) merupakan sayuran yang bermanfaat bagi tubuh manusia karena mengandung banyak gizi yang dibutuhkan. Sawi adalah jenis komoditi yang mudah rusak oleh karena itu diperlukan adanya pengolahan lebih lanjut. Hal ini disebabkan sawi merupakan sayuran yang mengandung kadar air yang tinggi sekitar 85-95% [1]. Proses yang dipilih untuk memperpanjang umur simpan adalah pengeringan karena pengeringan merupakan proses pengolahan pangan yang mudah dilakukan dan relatif murah. Salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi kadar air pada suatu poduk adalah dengan cara pengeringan, baik dengan cara dijemur atau dengan alat pengering [2]. Tepung adalah bentuk hasil pengolahan bahan dengan cara penggilingan atau penepungan pada suatu bahan atau produk yang telah dikeringkan. Jenis kemasan yang digunakan untuk menyimpan tepung sawi ada dua jenis plastik yang sering digunakan sebagai kemasan pangan adalah plastik Polipropilen (PP) dan plastik Polietilen, kedua jenis plastik ini selain harganya murah, mudah ditemukan di pasaran, juga memiliki sifat umum yang hampir sama[3]. Plastik Polietilen (Polyethylene) atau umum disebut dengan plastik PE. Warna plastik PE ini biasanya transparan bertekstur fleksibel, memiliki kekuatan serta kelenturan yang cukup baik. Jenis ini termasuk jenis yang baik untuk terkena proses pemanasan terus menerus, jadi dapat dikatakan plastik ini bersifat lentur dan memiliki daya tahan yang kuat terhadap panas. Salah satu kelemahan polyetilen adalah permeabilitas oksigen pada PE agak tinggi dan tidak tahan terhadap minyak (terutama LDPE) [4]. Plastik polypropylene atau polipropena (PP) merupakan polimer termoplastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah alat-alat rumah tangga yang dapat dipakai kembali (contohnya seperti ember plastik, gelas plastik, toples dan lain-lain), perlengkapan laboratorium, pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer. Polipropilen mempunyai ketahanan terhadap bahan kimia (chemical resistance) yang tinggi, tetapi ketahanan pukul (impact strength) nya rendah [5]. Menurut Triyanto, dkk, tujuan pengemasan adalah mencegah atau mengurangi kerusakan pada produk, melindungi bahan yang dikemas dari bahaya fisik yang terjadi selama penyimpanan [6].