SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS “Peningkatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru melalui Penelitian & Pengembangan dalam Menghadapi Tantangan Abad-21” Surakarta, 22 Oktober 2016 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2016 | 459 PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG KEPOK SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN KERTAS ALAMI DENGAN METODE PEMISAHAN ALKALISASI Putri Novianti 1 , Widiastuti Agustina Eko Setyowati 2 1,2 Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret Email Korespondensi: widi_greco@yahoo.com Abstrak Penelitian untuk mengetahui kondisi pemasakan optimum dalam pembuatan kertas dari limbah kulit pisang kepok (Musa acuminata balbisiana Colla) telah dilakukan. Pembuatan kertas dilakukan menggunakan metode alkalisasi, dimana pemasakan dilakukan pada temperatur 100 0 C selama 1,5 jam dengan variasi konsentrasi NaOH sebesar 2%, 3%, dan 4%. Proses bleaching dilakukan dengan larutan hidrogen peroksida. Kertas yang dihasilkan diuji kadar airnya dengan metode keringoven berdasarkan SNI ISO 287:2010 dan uji pH dilakukan sesuai dengan SNI ISO 6588-1:2010. Kemudian hasil pengujian masing-masing kertas tersebut dibandingkan dengan nilai kadar air dan pH kertas buram komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas berbahan dasar limbah kulit pisang kepok yang dibuat dengan konsentrasi NaOH 2%, 3%, dan 4% memiliki kadar air berturut-turut sebesar 0,4%; 0,93%; dan 4,21%, sedangkan hasil pengukuran pH berturut-turut sebesar 8,19; 6,74; dan 7,3. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kertas berbahan dasar kulit pisang kepok yang mendekati karakteristik kertas buram (kadar air 4,5% ; pH 7,51) adalah kertas yang dimasak dengan NaOH 4% selama 1,5 jam. Kata Kunci: kulit pisang kepok, alkalisasi, kertas alami, pH, kadar air Pendahuluan Kertas merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Pembuatan kertas yang kita ketahui selama ini menggunakan kayu sebagai sumber selulosa. Setiap ton bubur kertas memerlukan sedikitnya 4,5 meter kayu gelondongan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku kertas tersebut pertahun sekitar 3.000.000 hektare hutan alam ditebang. Indonesia dikatakan memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa, tetapi ternyata luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sekitar 72% (Ranganathan dkk, 2000) dan efeknya baru dirasakan saat ini seperti pemanasan global dan penyusutan hutan sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak bertanggung jawab. Tingginya kebutuhan kertas harus diimbangi dengan ketersediaan bahan baku. Rencana pemerintah untuk mengembangkan hutan tanaman industri (HTI) untuk menyediakan bahan baku industri berbasis kayu termasuk industri kertas belum dapat mengatasi kelangkaan bahan baku sehingga perusahaan industri kertas skala besar berupaya memperoleh bahan baku dari pasar gelap (illegal logging) yang berasal dari hutan alam sehingga sangat berpotensi merusak hutan (Manurung dan Sukaria, 2000). Pisang kepok (Musa acuminata balbisiana Colla) merupakan salah satu jenis buah-buahan tropis yang tumbuh subur dan mempunyai wilayah penyebaran merata di seluruh wilayah Indonesia. Pisang termasuk komoditas unggulan yang mudah diusahakan, berumur singkat, dan dapat dipanen sepanjang tahun. Karena tanaman pisang merupakan tanaman yang dapat dipanen sepanjang tahun, maka limbah yang dihasilkan pun melimpah sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku kertas pengganti kayu. Dengan begitu, ketergantungan masyarakat akan penggunaan kertas dari kayu akan berkurang sehingga kerusakan lingkungan pun secara berangsur dapat ditanggulangi. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by FKIP UNS Journal Systems