LIFE SKILLS EDUCATION THROUGH NON-FORMAL EDUCATION FOR PEOPLE WITH PHYSICAL DISABILITIES Mahfuzi Irwan 1,2 , Aisyah Anggreni 1 , Jihan Sunita 1 , Herman Suhdi 1 1 Jurusan Pendidikan Masyarakat, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Medan 2 aisyahanggreni346@gmail.com ABSTRACT This study aims to identify and identify life skills education through non-formal education for persons with physical disabilities. Individuals who have physical limitations are called persons with physical disabilities. In the social environment, society tends to give negative stigma to people with physical disabilities and other problems that are in the spotlight are the low participation and provision of job opportunities for people with disabilities in obtaining work. This study used qualitative research methods. This research is sourced from secondary data obtained from documents, and journals related and in line with physical disabilities and life skills education for physical disabilities. The result of this literature review is that empowerment of disabled groups must be carried out to increase participation in various fields of social life with adequate and relevant work skills. Skill enhancement is provided to gain accessibility for persons with disabilities, one of which is through non-formal education programs, namely life skills education. Vocational rehabilitation as a form of life skills education through non-formal education is carried out by providing services in the form of skills training activities that aim to cultivate, develop and increase the potential possessed by persons with disabilities, especially persons with physical disabilities. Keywords: Life Skills Education, Physical Disability, Vocational Rehabilitation PENDAHULUAN Kata “penyandang” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai orang yang menyandang (menderita) sesuatu, kata disabilitas berasal dari kata serapan bahasa Inggris disabilty (jamak: disabilities) dari akar kata dis- yang bermakna hilang dan -ability kemampuan, sehingga disabilitas bermakna hilangnya maupun berkurangnya kemampuan seseorang baik secara fisik- fisiologis maupun mental-psikologis. Hilangnya atau berkurangnya kemampuan seseorang dapat terjadi karena berbagai faktor, antara lain, disebabkan oleh faktor keturunan, faktor usia maupun akibat kecelakaan. Penggunaan kata “disabilitas” sebelumnya lebih di kenal dengan sebutan difabel atau penyandang “cacat”. Individu yang memiliki keterbatasan fisik disebut dengan penyandang disabilitas fisik. Menurut Suparno (2009), disabilitas fisik adalah kondisi seseorang yang mengalami kelainan fisik, yang mencakup kelainan anggota tubuh maupun yang mengalami kelainan gerak. Penyandang disabilitas memiliki permasalahan tekanan dari lingkungan sosial dan mengalami keterbatasan karna cara pandang yang salah dari masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Di lingkungan sosial, masyarakat cenderung memberikan stigma negatif daripada memberikan kesempatan, terlebih untuk memberikan semangat dalam menjalani hidup, sehingga penyandang disabilitas seringkali mengalami diskriminasi. Permasalahan yang sangat menonjol dari penyandang disabilitas ini adalah rendahnya partisipasi penyandang disabilitas di sektor kesempatan kerja. Berdasarkan Siregar dkk (2021), angka pengangguran penduduk dengan disabilitas/(people with disability/ PWD) (3,99%) lebih rendah dibandingkan dengan penduduk bukan penyandang disabilitas (people without disabilities/ PWOD) (7,26%). Meskipun demikian, rata-rata angka partisipasi tenaga kerja PWD lebih rendah (44,55%) dibandingkan dengan PWOD (70,01%) serta rata-rata upah yang diterima oleh PWD lebih rendah (Rp 1,3 juta) dibandingkan dengan PWOD (1,8 juta). Selain itu, PWD yang bekerja di sektor formal juga SPEKTRUM Jurnal Pendidikan Luar Sekolah http://ejournal.unp.ac.id/index.php/pnfi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang Sumatera Barat, Indonesia Volume 10, Nomor 2, Mei 2022 DOI: 10.24036/spektrumpls.v10i2.116728