Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan, Volume 6 No 1 2022 e-ISSN:2581-0960 p-ISSN: 2599-0497 Tersedia online di http://ejournal.undip.ac.id/index.php/kiryoku Copyright @2022, Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan, e-ISSN:2581-0960p-ISSN: 2599-0497 9 Hegemonisasi Budaya Populer Jepang dalam Komunitas Otaku Muhammad Agung Faisal, Yusida Lusiana, Dian Bayu Firmansyah * Universitas Jenderal Soedirman, Dr. Soeparno No. 60, Purwokerto Utara, Banyumas 53131, Indonesia *Email: aozora579@gmail.com, yusida.lusiana@unsoed.ac.id, dbayuf@unsoed.ac.id Abstrak Tujuan dari penelitian untuk mengetahui adanya hegemoni budaya populer Jepang terhadap anggota komunitas Otaku Wonosobo menggunakan teori hegemoni Gramsci. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara. Informan dari penlitan ini berjumlah 5 orang. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah proses hegemonisasi anggota komunitas Otaku Wonosobo dimulai sejak di bangku SD melalui tayangan anime di televisi. Bentuk hegemoni yang terjadi dalam komunitas Otaku Wonosobo yaitu hegemoni intelektual dan moral yang memiliki dampak berupa lebih condong untuk menyukai budaya Jepang daripada budaya tradisional lokal. Dalam penelitian ini juga menemukan adanya counter hegemoni yang dilakukan oleh anggota komunitas Otaku Wonosobo yaitu tidak memaksakan diri untuk mengikuti budaya populer Jepang serta tetap mengikuti dan merawat budaya lokal. Kata Kunci: Hegemoni; Gramsci; Otaku; Budaya Populer Jepang Abstract The purpose of this research is to see what the hegemony of Japanese popular culture is against members of the Otaku Wonosobo community using Gramsci's theory. This research is a qualitative descriptive using interview.The informan of this research are 5 member of Otaku Wonosobo community. The results found in this research are the process of hegemonization members of the Otaku Wonosobo community began in elementary school through anime shows on television. The form of hegemony that occurs in the Wonosobo Otaku community is intellectual and moral hegemony which has impact that they prefer to follow Japanese culture rather than local traditional culture. In this research also found a counter hegemony carried out by members of the Wonosobo Otaku community, namely not forcing themselves to follow Japanese popular culture and still following and caring for local culture. Keywords: Hegemony; Gramsci; Otaku; Japanese Popular Culture 1. Pendahuluan Kehidupan masyarakat modern antara lain ditandai oleh tingginya lalu lintas budaya antar negara yang didukung oleh kecanggihan teknologi informasi dan peran media massa. Berbagai pilihan budaya yang ditawarkan pun telah jauh melampaui dimensi fisik (geografis) dan mental manusia di seluruh dunia. Globalisasi membawa perkembangan yang pesat terhadap hampir semua aspek kehidupan seperti bidang politik, ideologi, ekonomi, teknologi informasi, dan ilmu pengetahuan. Dengan adanya globalisasi informasi dan teknologi sangat mudah diakses melalui media sosial. Hal tersebut merupakan salah satu faktor timbulnya budaya populer dalam masyarakat. Budaya menurut McIver (dalam Soekanto, 2002:304) adalah ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup dan berpikir, pergaulan hidup, seni kesusasteraan, agama, rekreasi, dan hiburan, dan yang memenuhi kebutuhan hidup manusia. Seiring dengan perkembangan zaman muncul istilah budaya populer. Menurut Burton (dalam Chaniago, 2011:93), budaya populer didominasi oleh produksi dan konsumsi barang-barang material dan bukan oleh seni-seni sejati, manakala penciptaannya didorong oleh motif laba. Budaya populer berkaitan dengan budaya massa. Budaya massa yaitu budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi