Seminar Nasional Sains dan Teknologi Informasi (SENSASI) ISBN: 978-623-93614-6-4 SENSASI 2021 Agustus 2021 Hal: 478 − 481 Victoria | http://prosiding.seminar-id.com/index.php/sensasi/issue/archive Page | 478 Pembentukan Karakter di PT SML ONE INDONESIA Victoria 1 , Ivone 2,* , Fahmi Sulaiman 3 , Arwin 1 , Rina Friska B Siahaan 2 1 Program Studi Manajemen Perusahaan, Politeknik Cendana, Medan, Indonesia 2 Program Studi Manajemen Pemasaran, Politeknik Cendana, Medan, Indonesia 3 Program Studi Manajemen Perusahaan, Ssekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma, Medan, Indonesia Email: 2, *ivonetjong@yahoo.com Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembentukan karakter siswa di PT SML INDONESIA. Menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, maka hasil penelitian ini akan di deskripsikan mengenai pembentukan karakter siswa di PT SMLONE Indonesia. Pengumpulan data melalui Wawancara terstruktur dengan mewawancarai 5 orang informan yaitu Guru Senior dan masih aktif mengajar disana. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, pemilihan sampel tersebut dengan pertimbangan karena mereka lebih mengetahui SMLOne Indonesia danjuga merupakan orang-orang yang terjun langsung dilapangan dan data yang didapat akan lebih akurat jika data didapat dari informan tersebut. Data analisis menggunakan model Miles dan Huberman yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Pengecekkan kredibilitas data penelitian dengan cara Triangulasi Sumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa di PT SMLONE lebih dominan dipengaruhi faktor ekstern /lingkungan. Kata Kunci: Pembentukan Karakter, Karakter Siswa 1. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sebuah awal proses pembelajaran sehingga orang dapat memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan untuk dijadikan dasar perubahan tingkah laku.Belajar dan pengalaman merupakan suatu proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan[1].Pendidikan dapat membantu masyarakat menjadi terpelajar dan dapat menjadi landasan untuk memacu pertumbuhan melalui penyediaan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi, serta mempunyai keahlian dan keterampilan.Pendidikan karakter disekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari[2]. Oleh karena itu, apresiasi output pendidikan terhadap keunggulan nilai humanistic, keluhuran budi, dan hati nurani pun menjadi dangkal [3]. Salah satu faktor pembentukan karakter adalah lingkungan pergaulan yang bersifat kerohanian seorang yang hidup dalam lingkungan yang baik secara langsung atau tidak langsung dapat membentuk kepribadiannya menjadi baik, begitu pula sebaliknya seorang yang hidup dalam lingkungan kurang mendukung dalam pembentukan akhlaknya maka setidaknya akan terpengaruh lingkungan tersebut. Pembentukan karakter melalui sekolah juga harus diperhatikan di sekolah pendidikan tidak semata-mata tentang mata pelajaran yang hanya mementingkan diperolehnya kemampuan kognitif tetapi juga penanaman moral, nilai-nilai estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara singkat yang penulis lakukan, ada karakter siswa di SMLONE yang perlu diperhatikan, padahal faktor pembentuk karakter yang baik adalah dengan memiliki insting, kebiasaan, kehendak dan suara hati yang baik serta pendidikan dan lingkungan yang mendukung, tetapi masih terdapat, siswa yang tidak mengikuti arahan, siswa yang sombong, pengelompokan antara siswa, dan siswa yang tidak saling menyapa bahkan tidak saling mengenal teman sekelas, padahal hal ini sangat mempengaruhi pembentukan karakter. Kurangnya pengetahuan tentang etika dan moral, membuat anak zaman sekarang menjadi sangat sulit dibimbing. Menurut Mudyaharjo dalam [4] dalam pengertian sempit, pendidikan adalah sekolah atau persekolahan (schooling). Pendidikan adalah pengaruh yang diupayakan dan direkayasa sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mereka mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran yang penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka Menurut Majid dalam [5] untuk mengetahui pengertian karakter, kita dapat melihat dari dua sisi, yakni sisi kebahasaan dan sisi istilah. Menurut bahasa (etimologis) istilah karakter berasal dari bahasa latin kharakter, kharassaein, dan kharax, dalam bahasa Yunani character dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter.Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional kata “karakter” berarti sifat -sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Maka istilah berkarakter artinya memiliki karakter, memiliki kepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umunya mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya) Depdiknas dalam [5] Dari konsep pendidikan dan karakter sebagaimana disebutkan diatas, muncul konsep pendidikan karakter (character education). Istilah pendidikan karakter mulai dikenal sejak tahun 1900-an. Thomas Lickona disebut sebagai pengusungnya, terutama ketika ia menulis buku yang berjudul The Return of Character Education dan kemudian disusul buku berikutnya, yakni Educating for Character. How Our School Can Teach Respect and Responsibility. Melalui buku