ISBN: 978-602-74598-3-0 Prosiding Seminar Nasional Fisika 5.0 (2019) (23-31) Adaptasi instrumen tes kreativitas ilmiah hu dan adey sebagai alternatif untuk mengukur kreativitas dalam konteks sains Anggi Hanif Setyadin 1,2* , Ridwan Efendi 2 , Muslim 2 , Achmad Samsudin 2 , Anis Rohman Fadhil 3 1 SMA Negeri 1 Warungkondang, Jalan Pasirhuni No. 15, Cianjur, Indonesia 2 Departemen Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia 3 Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Ahmad Dahlan *e-mail: anggihanif@upi.edu ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengadaptasi instrumen kreativitas ilmiah Hu dan Adey pada konteks Indonesia sebagai salah satu alternatif asesmen kreativitas dalam konteks sains. Metode penelitian yang digunakan adalah model 3D+1I (Defining, Designing, Developing and Implementing). Pada tahap defining, dilakukan studi literatur tentang instrumen kreativitas ilmiah Hu dan Adey. Melalui tahapan designing, instrumen kreativitas ilmiah Hu dan Adey diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia, kemudian pada tahap developing instrumen tersebut di presentasikan dalam sebuah forum yang berisi satu orang expert dalam bidang asesmen dan 20 mahasiswa sekolah pascasarjana, departemen pendidikan fisika, UPI, Bandung. Setelah mendapat saran dan perbaikan, instrumen melalui tahap uji coba (implementing) terhadap 38 siswa SMK dengan rerata usia 16 tahun di salah satu SMK swasta di Kabupaten Cianjur. Hasil jawaban siswa pada tahap implementing dianalisis menggunakan Rasch Analysis Model untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen. Nilai validitas instrumen yang ditunjukkan oleh raw variance explained by measures, yaitu 45% yang terkategori bagus, sedangkan nilai reliabilities instrument ditunjukkan dengan nilai alpha-cronbach (KR-20) yaitu 0,68 yang terkategori cukup. Melalui hasil tersebut, instrumen tes kreativitias ilmiah Hu dan Adey telah di adaptasi. Kata kunci: Instrumen Tes Kreativitas Ilmiah, Rasch Analysis Model 1. Pendahuluan Kreativitas merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki siswa pada abad ke-21, mengingat kreativitas dapat menunjang pembelajaran dan proses pencarian informasi (Arlene, dkk. 2017; Nissim, dkk. 2016; Jahnke, dkk. 2015; Rampesad, 2014). Hal ini tercantum dalam kurikulum pendidikan Indonesia yang menyebutkan bahwa setelah mengikuti pendidikan formal, lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah diharapkan memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produkfif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dengan demikian, peran guru dalam melatihkan dan menilai kreativitas siswa dalam pembelajaran menjadi sangat penting agar standar kompetensi lulusan dari kurikulum dapat terpenuhi. Kreativitas memiliki arti yang luas, banyak artikel yang mendefinisikan kreativitas melalui kutipan pada buku atau artikel sebelumnya tanpa memerhatikan sejarah panjang dari definisi tersebut (Runco & Jaeger, 2012). Charyton dan Snelbecker (2007) menyebutkan setidaknya terdapat tiga ranah kreativitas yaitu kreativitas dalam konteks umum, artistik, dan ilmiah. Dalam sudut pandang pembelajaran sains, ranah khusus kreativitas disebut dengan kreativitas ilmiah (Usta, dkk., 2015; Ayas, dkk., 2014; Demir, dkk., 2014). Hu & Adey (2002) mengajukan sebuah model kreativitas ilmiah yang disebut dengan the scientific structure creativity model (SSCM) yang merupakan perpaduan antara trait atau karakteristik kreativitas, process atau proses kreatif, dan product atau produk kreatif. Karakteristik kreativitas mengacu pada kerangka kreativitas Torrance (1990) yaitu fluency, flexibility, originality. Produk kreatif dapat dibedakan menjadi science problem, science phenomena, science