UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL MAHASISWA JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FIP UNNES SEMESTER I TAHUN AKADEMIK 2009/2010 MELALUI LAYANAN KONSELING KELOMPOK Sinta Saraswati, Kustiono, dan Biif Nur Wahyu Eny Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan Guru SMP Negeri 40 Semarang Abstract. The problem in this research is: "How is the implementation of group counseling services that can enhance emotional intelligence of students of Guidance Counseling Department of FIP of Unnes?" The purpose of this research was to find out how the implementation of group counseling services (KKp) can improve student‟s intelligence emotional. This is a classroom action research with first semester students of BK department as subjects. The object of observation in this study is to increase The students' emotional improvement is observed using problem checklist. The research was performed in 3 cycles. The results shows the emotional intelligence of students decreases by average of 4.32% for the first cycle, increases by average of 16.31% for second cycle, and increases by average of 10.60% for the third cycle. The total improvement is 22.52%. Thus, Group Counseling Service (KKp) is effective to improve students' emotional intelligence. Keywords: emotional intelligence, guidance counseling, group counseling services PENDAHULUAN Sebagian besar orang tua akan merasa sangat bangga jika anak mereka cerdas dalam bidang akademik; namun tidak akan merasa sangat bangga dengan anaknya yang memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal atau pun kecerdasan interpersonal. Hasil penelitian Golemen (1995 dan 1998), memperlihatkan bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi kontribusi 20% terhadap kesuksesan hidup seseorang; sedangkan yang 80% bergantung pada kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritualnya. Bahkan dalam hal keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya berkontribusi 4%. Goleman (2005:30), dalam bukunya yang berjudul ”Emotional Intelligence”, mengatakan bahwa kecerdasan emosi mempunyai bobot yang lebih besar ketimbang IQ dalam menentukan siapa yang muncul sebagai pemimpin. Hal ini terbukti bahwa banyak sekali orang yang sukses bukan karena IQ-nya yang tinggi, tapi karena kecerdasan emosinya yang sangat baik. Kecerdasan emosi lebih banyak diperoleh lewat belajar, dan terus berkembang sepanjang hidup sambil belajar dari pengalaman sendiri, kecakapan ini dapat terus tumbuh. Kecakapan emosi adalah kecakapan hasil belajar yang didasarkan pada kecerdasan emosi dan karena itu menghasilkan kinerja menonjol dalam pekerjaan. Kecerdasan emosi menentukan potensi kita untuk mempelajari keterampilan- keterampilan praktis yang didasarkan pada lima unsur dominan, seperti: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan kecakapan dalam membina hubungan dengan orang lain (Goleman, 2005:39).