93 PENGETAHUAN HIV/AIDS PADA REMAJA DI KELAS XI SMA NEGERI 1 DOLOK PANRIBUAN Dodoh Khodijah Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Medan Abstrak Resiko penularan HIV/AIDs di Indonesia, 80% disebabkan oleh tranmisi seksual tidak aman atau berganti- ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom. ILO mencatat lebih dari 80% kasus HIV berada di usia produktif 15-49 tahun dan diprediksi 1 dari 25 orang berusia 15-49 tahun terinfeksi HIV, hanya 11,4% penduduk umur 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan benar dan komprehensif tentang HIV/AIDs. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan HIV/AIDs pada Remaja di kelas XI SMA Negeri 1 Dolok Panribuan. Metode: Rancangan penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran pengetahuan HIV AIDs pada remaja di SMA Negeri 1 Dolok Panribuan. Sampel sebanyak 60 orang kelas XI SMA Negeri 1 Dolok Panribuan. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner tertutup. Analisis data dengan menggunakan distribusi frekwensi. Hasil: Hanya sebesar (21%) remaja mempunyai pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDs. Distribusi remaja berdasarkan jenis kelamin mempunyai jumlah yang hamper sama yaitu perempuan : laki-laki ( 51,7%) : ( 48,3%). Sebanyak (48,3%) memperoleh informasi dengan sumber yang baik. Kesimpulan: Pengetahuan remaja tentang HIV/AIDs masih rendah di SMA Negeri 1 Dolok Panribuan. Kata kunci :Pengetahuan, HIV AIDS Pendahuluan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDs) adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit ini telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu yang relatif singkat terjadi peningkatan jumlah pasien dan semakin melanda banyak negara. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin atau obat yang relatif efektif untuk AIDs sehingga menimbulkan keresahan di dunia (Widoyono, 2008 ). HIV dapat menyebar melalui sexual intercourse yang berganti- ganti pasangan, jarum suntik yang digunakan secara bersamaan oleh para pecandu obat, jarum tato, dan transfusi darah.Virus HIV ini juga dapat ditularkan melalui darah, sperma, dan cairan vagina, juga pada ASI ibu (Suherman 2013). Pada tahun 2013 Penyebaran HIV/AIDs pada usia muda makin memprihatinkan, saat ini di seluruh dunia lebih dari setengah infeksi HIV/AIDs baru terjadi pada usia muda. Di Asia Pasifik sekitar 350.000 orang terinfeksi HIV/AIDs, lebih dari 6% diantaranya adalah anak-anak di bawah usia 14 tahun, sementara di usia 10 sampai 19 tahun sekitar 17%. Selain itu, sekitar 240.000 remaja saat ini hidup dengan HIV di wilayah Asia Pasifik (UNICEF, 2013). WHO (World Health Organization) memperkirakan sekitar 170.000 sampai 210.000 dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS, di mana angka kejadian diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung. Jumlah kasus kematian akibat AIDs di Indonesia diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria (Komisi Penanggulangan AIDs, 2013). Resiko penularan HIV/AIDs di Indonesia, 80% disebabkan oleh tranmisi seksual tidak aman atau berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom. International Labaour Organization (ILO) mencatat lebih dari 80% kasus HIV berada di usia produktif 15-49 tahun dan diprediksi 1 dari 25 orang berusia 15-49 tahun terinfeksi HIV (Komisi Penanggulangan AIDs, 2013). Tingginya persentase wanita umur 1549 tahun dan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tetang HIV/AIDs, tidak sesuai dengan tingkat pengetahuan tentang cara mengurangi resiko tertular HIV/AIDs (Komisi Penanggulangan AIDs, 2012). Secara nasional terdapat 44% kelompok remaja usia 15-24 tahun yang kurang mengetahui cara pencegahan HIV/AIDs (,Basuki 2012) dan hanya 11,4% penduduk umur 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan benar dan komprehensif tentang HIV/AIDs (Depkes RI, 2010). Angka kejadian HIV tertinggi di DKI Jakarta diikuti oleh Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, dan Bali (Widoyono, 2011)