277 KEPATUHAN SEBAGAI CITRA PEREMPUAN SHALEHAH PADA NOVEL BIDADARI BERMATA BENING KARYA HABIBURRAHMAN EL-SHIRAZY Varatisha Anjani Abdullah 1 dan Nuril Ashivah Misbah 2 Staff Pengajar Fakultas Sastra Universitas Pamulang 1 Pustakawan Perpustakaan Swakelola Dapurkultur 2 varatisha.anjani@gmail.com 1 ivamisbah@gmail.com 2 ABSTRAK Artikel ini bertujuan membahas mengenai sikap patuh sebagai salah satu ciri perempuan salehah dalam novel Bidadari Bermata Bening karangan Habiburrahman El-Shirazy. El-Shirazy dengan novel-novel Islami-nya kerap menciptakan tokoh perempuan sebagai tokoh utama yang memiliki latar belakang agama yang kuat. Dari banyaknya novel yang diciptakan, ada sifat yang selalu ada hampir di setiap tokohnya, yakni patuh. Perempuan secara konstruk sosial digambarkan sebagai sosok yang patuh dan di bawah pengaruh laki-laki. Kepatuhan yang dikonstruksikan kepada perempuan disebabkan karena adanya budaya patriarki yang memberikan kewenangan bagi laki-laki untuk mendomnasi kehidupan perempuan. Lebih lanjut artikel ini akan membongkar bagaimana citra salehah yang menjadi latar belakang dari penentuan moral pada perempuan sebagai makhluk sosial. Dengan menggunakan teori-teori gender dan feminis, artikel ini akan membongkar bagaimana citra perempuan salehah dikonstruksi melalui kepatuhan yang dilakukan oleh tokoh perempuan pada karya El-Shirazy ini. Kata kunci: perempuan salehah, gender, feminisme, sastra Islami. PENDAHULUAN Gender sebagai produk sosial dan budaya telah menempatkan perempuan pada posisi yang tidak menguntungkan. Secara sosial, perempuan dikonstruksikan sebagai manusia yang lemah, lembut, penakut, keibuan dan dekat dengan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan domestik. Sifat-sifat tersebut justru terbalik dengan sifat yang disematkan untuk kaum laki-laki yang dikonstruksi sebagai makhluk yang pemberani, kuat, bertanggungjawab dan bebas memiliki kebebasan untuk beraktifitas di luar rumah. Tentu pembagian sifat yang biner ini menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan khususnya bagi kaum perempuan. Ketidakadilan tersebt muncul karena sifat-sifat yang ada pada diri perempuan dan laki-laki tersebut seakan menjadi kodrat bagi setiap individu bagi laki-laki maupun perempuan. Dengan pembagian sifat tersebut, perempuan maupun laki-laki yang memiliki sifat seperti yang diakui masyarakat seperti di atas akan dianggap aneh dan seolah-olah menyalahi kodrat. Contoh, ketika dalam satu kehidupan rumah tangga, istri memiliki pendidikan lebih tinngi dan pekerjaan lebih baik dari suami, maka masyarakat akan merundung sang istri dan juga mencemooh sang suami yang dianggap lebih lemah dari istrinya. Jika hal tersebut berkepanjangan maka bisa menggangu stabilitas kehidupan rumah tangga. Fenomena kondisi di atas disebabkan karena budaya patriarkhi yang berkembang di masyarakat kita. Budaya patriarkhi di masyarakat tak pelak merupakan akar penyebab dari ketimpangan posisi antara laki-laki dan perempuan, yang pada gilirannya merupakan sumber persoalan perempuan.