Ni Nyoman Rahmawati Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender« Jurnal Studi Kultural Volume 1 No. 1 Januari 2016 www.an1mage.org 58 Jurnal Studi Kultural (2016) Volume I No.1: 5864 Jurnal Studi Kultural http://journals.an1mage.net/index.php/ajsk Laporan Riset Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender (Kajian Budaya, Tradisi, dan Agama Hindu) Ni Nyoman Rahmawati* Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Info Artikel Sejarah artikel: Dikirim 14 Oktober 2015 Direvisi 9 November 2015 Diterima 12 Desember 2015 Kata Kunci: Pergulatan Gender Perempuan Bali Agama Hindu 1. Pendahuluan Gender sudah menjadi pembicaraan yang diperbincangkan baik di dunia pendidikan, perpolitikan, ekonomi, bahkan menjadi wacana dalam pembahasan serius maupun perbincangan ringan di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana diketahui wacana gender muncul sebagai dekonstruksi terhadap budaya patriarki yang telah menghegemoni paradigma masyarakat sekurang-kurangnya tiga ribu tahun lamanya. Bahkan Fritjof Capra mengatakan, selama tiga ribu tahun terakhir Peradaban Barat dan pendahulu-pendahulunya, dan kebudayaan-kebudayaan lainnya, telah didasarkan atas sistem filsafat, sosial, dan politik di mana ·laki-laki dengan kekuatan, tekanan langsung, atau melalui ritual, tradisi, hukum dan bahasa, adat kebiasaan, etiket, pendidikan, dan pembagian kerja menentukan peran apa yang boleh dan tidak dimainkan oleh perempuan di mana perempuan dianggap lebih rendah dari pada laki-ODNL· &DSUD  [1]. Budaya patriarki, yang telah mempengaruhi pemikiran- pemikiran mendasar seluruh masyarakat dunia tentang hakekat manusia dan hubungannya dengan alam dalam pandangan EXGD\D ‡patriarki· GHQJDQ doktrin-doktrinnya diterima secara universal. Doktrin yang dikonstruksi sehingga seakan-akan tampak sebagai hukum alam, apalagi dogma-dogma ini diperkuat oleh doktrin-doktrin agama yang mau tidak mau bagi masyarakat awam hingga kini masih terpatri oleh pemikiran-pemikiran yang lebih mendewakan laki-laki daripada kaum perempuan yang notebenenya sama-sama manusia ciptaan tuhan. Ironis memang sebagai umat beragama manusia selalu dicekoki oleh dogma-GRJPD ‡7XKDQ 0DKD 3HQJDVLK, Maha 3HQ\D\DQJ GDQ 0DKD $GLO· MLND LWX EHQDU KDUXVNDK DGD perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Haruskah ada sekat-sekat yang menjadikan perempuan lebih rendah dari pada laki-laki? Patut diakui pernyataan-peryataan seperti itu penuh dengan kontradiksi yang patut untuk direnungkan kembali. Sebagaimana halnya hegemoni budaya patriarki terhadap pemikiran dunia. Budaya patriarki juga mewarnai adat budaya yang ada di Bali, sebagaimana yang disampaikan oleh Holleman dan Koentharaningrat dalam Sudarta, bahwa Kebudayaan Bali identik dengan sistem kekerabatan patrilineal. (Sudarta, 2006) [2]. Hal ini tentunya sangat kontradiktif dengan pandangan Agama Hindu sebagai ajaran yang diyakini kebenarannya secara dominan oleh Masyarakat Bali, yang dalam ajarannya sangat memuliakan perempuan, EDKNDQ SHUHPSXDQ GLDQJJDS VHEDJDL VDNWL· (memiliki kekuatan mistis) bagi laki-laki. Gender merupakan interaksi sosial masyarakat yang membedakan perilaku antara laki-laki dan perempuan secara proporsional menyangkut moral etika dan budaya. Kekeliruan dalam merefleksikan konsep purusa dan pradana dalam wujud laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial di masyarakat telah menimbulkan adanya ketimpangan dan ketidakadilan terhadap perempuan di Bali, yang memandang laki- laki memiliki kedudukan yang lebih istimewa dari pada perempuan. Hal ini tercermin dari pemberlakuan hukum adat yang masih belum memiliki kesetaraan gender walaupun dari hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa Kaum Perempuan Bali tidak merasa mengalami ketidakadilan gender karena memaknai setiap perannya sebagai suatu kewajiban, walaupun sebenarnya Perempuan Bali merasakan beban kerja akibat ketimpangan peran yang diterimanya. Hal ini kontradiktif dengan Pandangan Hindu yang memuliakan kaum perempuan sebagai kekuatan sakti, yang memiliki peran yang penting dalam penciptaan alam semesta . © 2016 Komunitas Studi Kultural Indonesia. Diterbitkan oleh An1mage. All rights reserved. Abstrak * Peneliti koresponden: Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Jl. G.Obos X Palangka Raya. Mobile: 085705375598 E-mail: ninyomanrahmawati0202@gmail.com