NATIONAL CONFERENCE ON COMPUTER SCIENCE & INFORMATION TECHNOLOGY VII 1 METODE BLIND IMAGE-WATERMARKING BERBASIS CHAOS DALAM RANAH DISCRETE COSINE TRANSFORM ( DCT ) Rinaldi Munir 1 , Bambang Riyanto 2 , Sarwono Sutikno 3 , Wiseto P. Agung 4 Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung e-mail: rinaldi-m@stei.itb.ac.id 1 , , briyanto@lskk.ee.itb.ac.id 2 , sswarwono@ieee.org 3 , wiseto@telkom.co.id 4 ABSTRAK Makalah ini memaparkan metode image watermarking berbasis chaos pada ranah frekuensi dengan menggunakan Discrete Cosine Tranform (DCT). Penyisipan watermark dilakukan secara lokal yaitu pada subimage yang dibentuk dari kumpulan blok berukuran 8 x 8 dan dipilih secara acak dari citra semula. Dalam hal ini, chaotic map digunakan untuk membangkitkan bilangan acak. Selanjutnya subimage ditransformasi ke dalam ranah frekuensi dengan DCT , dan spread spectrum watermark disisipkan ke dalam citra. Kelebihan metode ini adalah pendeteksian watermark tidak memerlukan citra semula ( blind ). Ada dua kunci yang dibutuhkan pada teknik ini, pertama nilai awal barisan chaos dan kedua spread spectrum watermark. Tidak seperti teknik watermarking lain yang umumnya watermark merupakan barisan bit acak tidak bermakna, maka pada teknik ini watermark adalah citra logo hitam -putih. Simulasi dengan MATLAB menunjukkan bahwa teknik ini kokoh terhadap serangan seperti kompresi JPEG, cropping , resizing , dan penambahan derau. Kata kunci: watermarking , citra, DCT , chaos, blind , subimage, spread spectrum watermark. Makalah diterima pada tanggal 7-1-2007. Revisi akhir: 12-1-2007. 1. PENDAHULUAN Image watermarking adalah teknik untuk menyisipkan informasi yang disebut watermark ke dalam citra digital. Image Watermarking mempunyai banyak aplikasi, antara lain untuk bukti kepemilikan, otentikasi, perlindungan copyright , fingerprinting, dan tamper proofing . Persyaratan umum watermarking adalah imperceptible , robustness , dan secure. Sejumlah metode image watermarking sudah banyak dipublikasikan dalam beberapa tahun terakhir. Review beberapa metode dapat ditemukan di dalam [3]. Kebanyakan metode watermarking didasarkan pada modulasi spread spectrum informasi dengan watermark yang berupa sinyal derau-semu (pseudo-noise ) sebagai kunci penyisipan dan pendeteksian watermark [1, 2]. Istilah “spread spectrum” muncul karena penyisipan watermark ke dalam citra menggunakan teknik yang analog dengan komunikasi spread spectrum, yaitu watermark disebar di antara banyak komponen frekuensi [3]. Teknik spread spectrum watermarking umumnya melakukan penyisipan dan pendeteksian watermark dalam ranah tranform dengan menggunakan salah satu dari kakas transformasi yang sudah dikenal (DCT, FFT , DWT, dan lain-lain). Mula-mula citra ditransformasikan kedalam ranah transform , lalu bit watermark disisipkan pada koefisien transformasi tersebut. Secara umum, watermarking dalam ranah transform menghasilkan teknik yang lebih kokoh terhadap serangan seperti kompresi, cropping, dan operasi tapis lolos-rendah dibandingkan dengan watermarking dalam ranah spasial. Makalah ini menyajikan metode image watermarking berbasis chaos yang diadaptasi dari metode yang diusulkan oleh Daw ei dan Mabtoul [4, 5]. Chaos diterapkan karena ia mempunyai dua karakteristik penting untuk meningkatkan keamanan, yaitu sensitivitas pada kondisi awal dan sebarannya yang merata pada seluruh ruang yang ada [4]. Karakteristik ini cocok untuk enkripsi dan watermarking. Fungsi chaos digunakan untuk membangkikan barisan bilangan acak. Barisan bilangan acak di dalam metode ini digunakan untuk membentuk subimage yang akan dijadikan sebagai tempat penyisipan watermark . Kebanyakan sistem watermarking yang ada hanya dapat memutuskan apakah watermark ada atau tidak ada di dalam citra uji berdasarkan pada prinsip korelasi, tetapi konten watermark itu sendiri tidak diketahui [5]. Umumnya watermark yang digunakan di dalam sistem tersebut adalah barisan bit acak yang tidak mempunyai makna. Di dalam makalah ini watermark adalah citra hitam-putih seperti logo. Selain itu, kelebihan metode ini adalah pendeteksian watermark tidak membutuhkan citra asal atau dikenal dengan istilah blind watermarking. Ada dua kunci yang dibutuhkan untuk pendeteksian watermark , yaitu nilai awal barisan chaos dan spread spectrum watermark . Yang terakhir ini adalah citra biner {+1, -1} yang dibangkitkan dari subimage dan watermark asal melalui proses thresholding tertentu.