Jurnal Ilmu Manajemen Volume 9 Nomor 1 – Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya 2021 311 ANALISIS SELL IN MAY AND GO AWAY DI BURSA EFEK INDONESIA DAN MALAYSIA PERIODE 2017-2019 Laila Marta Zarika Universitas Negeri Surabaya lailamarta28@gmail.com R.A. Sista Paramita Universitas Negeri Surabaya sistaparamita@unesa.ac.id Abstract In May and Go Away (SMGA), Sell is a type of seasonal Anomaly, which historically originated in Europe and America that between May-October returns lower than the other periods from November to April. This research aims to determine the difference in abnormal return in the May-October (Worst period) period and November- April (Best period) in Indonesia and Malaysia Stock Exchange between 2017 to 2019. This test conducted using the company's stock price data samples listed on the LQ45 index in the Indonesia Stock Exchange and the FBMKLCI index in the Malaysia Stock Exchange period 2017 to 2019. Hypothesis testing using paired sample t-test to answer if there is a difference in return between the best period and the worst period, to prove the Sell's existence in May and Go Away. The results showed no difference returns between the best and worst periods in the Sell in May and Go Away phenomenon at the Indonesia and Malaysia Stock Exchange period 2017 to 2019. The Investor considers SMGA as not a phenomenon containing excellent or bad information that is capable of affecting the price movement of shares so that SMGA as a strategy to buy stocks in the best period and sell in the worst period is no longer relevant. Keywords: abnormal return; seasonal anomaly; sell in may and go away. PENDAHULUAN Investasi pada sektor pasar modal menjadi amat populer. Di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan kenaikan jumlah SID (Single Investor Identification) pada data yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tahun 2018. Rilis tersebut menyebutkan bahwa pada akhir Desember 2018, kenaikan jumlah SID mencapai 1.817.367, naik 44,06% dari tahun sebelumnya. Di antara semua produk pasar modal, saham menjadi salah satu produk yang paling terkenal dan diminati oleh investor. Investasi saham kemudian menjadi sangat populer bersamaan dengan berkembangnya teknologi dan internet, di mana investor dapat dengan mudah bertransaksi dengan media komputer dan telepon genggam. Selain karena kemudahannya, Wicaksana (2018) berpendapat bahwa investasi saham menawarkan tingkat keuntungan yang tinggi, di mana kenaikan harga saham bisa menjadi sangat signifikan. May (2017:13) menjelaskan dalam bahwa dalam melakukan investasi, setiap investor memiliki tujuan yang berbeda. Tujuan investasi yang paling umum adalah menjaga nilai mata uang dari inflasi, mendapatkan tambahan penghasilan hingga melipatgandakan aset. Setiap investor menginginkan imbal hasil (return) berupa material seperti capital gain, maupun non-material seperti rasa aman atas risiko penurunan nilai uang dari kegiatan investasinya. Harga saham bergerak fluktuatif setiap waktunya sesuai dengan permintaan dan penawaran investor. Pada tingkat tertentu, permintaan dan penawaran akan menggerakan harga saham untuk naik maupun turun. Dalam melakukan keputusan beli maupun jual, investor sering kali berpegangan pada informasi yang beredar dan rekomendasi analis. Oleh karena itu, harga saham di pasar umumnya sudah menggambarkan segala informasi yang melekat di dalamnya sesuai dengan teori Fama (1970). Tandelilin (2017: 224) mengatakan bahwa kondisi pasar di mana harga saham adalah cerminan seluruh informasi yang tersedia disebut dengan pasar efisien. Informasi bisa berbentuk informasi masa