Jurnal Rekursif, Vol. 8 No. 2 November 2020, ISSN 2303-0755 http://ejournal.unib.ac.id/index.php/rekursif/ 144 PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DENGAN METODE NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX, NORMALIZED DIFFERENCE WATER INDEX DAN SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (Studi Kasus: Kota Bengkulu) Franky Hernoza 1 , Boko Susilo 2 , Aan Erlansari 3 Program Studi Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Bengkulu. Jl. W.R. Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371A Indonesia 1 frankyhernoza@gmail.com 2 boko.susilo@unib.ac.id 3 aan_erlanshari@unib.ac.id Abstrak : Sesuai dengan Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan dokumen mitigasi bencana seperti pembuatan peta risiko. Oleh karena itu dibuatlah pemetaan tingkat kerawanan banjir di setiap kecamatan yang ada di Kota Bengkulu yang merupakan salah satu cara untuk penanggulangan bencana banjir. Analisa daerah rawan banjir pada penelitian ini didokumentasikan ke dalam Sistem Informasi Geografis (SIG), dan untuk menentukan daerah rawan banjir digunakanlah empat parameter yaitu (1) Curah Hujan (2) Bantaran Sungai (3) Kelerengan dan (4) Penggunaan Lahan. Untuk pengolahan penggunaan lahan digunakan metode Normalized Difference Vegetation Index, Normalized Difference Water Index, dan untuk menentukan tingkat kerawanan banjir menggunakan metode Simple Additive Weighting. Penelitian ini menghasilkan Kecamatan yang sangat rawan terkena bencana banjir adalah kecamatan Kampung Melayu, Muara Bangkahulu dan Selebar. Kecamatan yang rawan terkena banjir adalah Sungai Serut. Dan kecamatan yang memiliki tingkat aman adalah kecamatan Singaranpati, Teluk Segara, Ratu Agung, Ratu Samban dan Gading Cempaka. Kata Kunci: Banjir, Kota Bengkulu , Simple Additive Weighting, Normalized Difference Vegetation Index, Normalized Difference Water Index. Abstract: In accordance with Law No. 24 of 2007 concerning Disaster Management, the actions that can be taken are by making disaster mitigation documents such as making risk maps. Therefore a mapping of flood hazard levels was made in each district in the city of Bengkulu, which is one way to deal with floods. Analysis of flood-prone areas in this study is documented into the Geographic Information System (GIS), and to determine flood-prone areas, four parameters are used (1) Rainfall (2) Riverbanks (3) Slope and (4) Land Use. For land use processing, the Normalized