Arcangelisia flava leaves ethanolic extract is better to be used as cancer co- chemotherapeutic agent rather than single use Endah Puspitasari*, Dian Agung Pangaribowo, Alifianti Balinda Pramatasari, Nandan Gilang Cempaka, Muhammad Bayu Sanjaya Faculty of Pharmacy University of Jember Jl. Kalimantan 37 Jember, East Java, Indonesia *coresponding author e-mail: e.puspitasari@unej.ac.id ABSTRAK Penemuan dan pengembangan agen kemoprevensi kanker terus dilakukan oleh peneliti, baik yang berasal dari bahan alam maupun hasil sintesis kimia. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya angka kejadian kanker di dunia. Penderita kanker baru mengalami peningkatan dari 12,7 juta kasus pada tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus baru pada tahun 2012. Angka kematian akibat kanker juga meningkat dari 7,6 juta kasus pada tahun 2008 menjadi 8,2 juta kasus pada tahun 2012. Diperkirakan, dalam jangka waktu lima tahun ke depan, terdapat sekitar 32,6 juta penderita kanker baru Eksplorasi agen kemoprevensi kanker yang berasal dari bahan alam dapat dengan mudah dilakukan di Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, baik flora maupun fauna. Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi untuk terapi antikanker adalah Arcangelisia flava. Tumbuhan ini merupakan jenis tumbuhan dengan kategori rawan. Meskipun langka, A. flava dapat ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri, Jember. Ekstrak metanol A. flava diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan sitotoksik terhadap larva udang dan sel kanker payudara MCF-7 terbesar dibandingkan ekstrak petroleum eter, kloroform, dan airnya, maupun jika dibandingkan dengan ekstrak Coscinium blumeanum dan Fibraurea tinctoria. Aktivitas ini diduga disebabkan oleh kandungan berberin di dalamnya. Selain berberin, A. flava juga mengandung alkaloid palmatin dan jatrorrhizin. Ekstrak etanol A. flava juga mampu meningkatkan sistem imun tikus yang diberi doxorubicin. Oleh karena itu, A. flava memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agen kemoprevensi kanker. Hasil penelitian tahun pertama menunjukkan bahwa ekstrak etanol A. flava termasuk dalam kategori sitotoksik sedang terhadap sel MCF-7, HeLa, dan WiDr, namun tidak toksik terhadap sel normal (sel Vero). Ekstrak etanol A. flava sangat selektif terhadap sel MCF-7 dan WiDr, namun kurang selektif terhadap sel HeLa. Hasil uji apoptosis menunjukkan bahwa sel mengalami kematian dengan mekanisme nekrosis, meskipun perlu dikonfirmasi kembali. Hasil uji in silico menunjukkan bahwa berberin memiliki afinitas paling stabil terhadap reseptor kinase dibandingkan dengan palmatin dan jatrorrhizin, artinya berberin berperan lebih banyak dibandingkan dua senyawa alkaloid dalam aktivitas sitotoksik dari ekstrak