https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/SosioKonsepsia/article/view/2389 DOI : 10.33007/ska.v10i2.2389 159 Resiliensi Keluarga Teroris A: Kekuatan Menghadapi Stigma Negatif, Rasa Malu dan Psychological Distress sebagai Keluarga Teroris Muslim Hidayat 1 *, Sabiqotul Husna 1 * 1 Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia. * Korespondensi: muslim.hidayat@uin-suka-ac.id ; Tel: +6285642153199 * Korespondensi: sabiqotul.husna@uin-suka.ac.id ; Tel: +6281553909740 Diterima : 14 Oktober 2020; Disetujui: 1 Maret 2021.; Diterbitkan: 25 April 2021 Abstrak: Stigma dan diskriminasi yang dihadapi keluarga tersangka terorisme menjadi sebuah isu problematik yang selama ini masih kurang mendapat perhatian. Tidak jarang keluarga teroris harus menjalani kehidupan yang sarat akan stigma negatif, diskriminasi dan kemungkinan hidup dalam distress psikologis seperti stress, keputusasaan, kecemasan, perasaan tegang, ketakutan dan perasaan rendah diri/malu luar biasa. Riset ini mengeksplorasi kemampuan keluarga teroris A dalam menghadapi stigma masyarakat serta bagaimana menjalani kehidupan yang berubah setelah seorang anggota keluarganya yaitu A ditetapkan menjadi tersangka tindak pidana terorisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tradisi fenomenologi dalam mengekplorasi pengalaman subyektif dalam mengelola beban psikologis dan membangun resiliensi dari keluarga pelaku teroris ketika salah satu anggota keluarga mereka ada yang menjadi teroris. Partisipan dalam penelitian ini adalah Ibu kandung A sebagai partisipan utama dan tetangga A sebagai informan tahu. Hasil penelitian yang didapatkan melalui in depth interview dan observasi menunjukkan bahwa dinamika psikologis dan resiliensi keluarga teroris A yaitu dari sudut pandang Ibu A terbentuk dalam proses yang tidak sebentar dan tidak mudah. Beban distress psikologis meliputi stress, cemas, malu, menutup diri, dan ketakutan yang amat sangat menjadi sangat dominan di masa awal, dan perlahan pembentukan resiliensi keluarga dicapai dengan kerja sama anggota keluarga A. Stigma negatif maupun dukungan positif masyarakat sekitar turut mewarnai perjalanan pembentukan resiliensi Ibu A dan keluarganya. Kata kunci: resiliensi keluarga, terorisme, stigma negatif, diskriminasi, distres psikologis Abstract: The stigma and discrimination faced by the families of terrorism suspects is a problematic issue that has received little attention. It is not uncommon for terrorist families to live lives that are full of negative stigma, discrimination and the possibility of living under psychological distress e.g. stress, anxious, fear, hopeless and feelings of inferiority/shame. This research explored the ability of A terrorist family in facing the stigma from society and how to face a sudden change after their family member, namely A, was named as a suspect in a criminal act of terrorism. This study used a qualitative method with a phenomenological tradition to explore subjective experiences in terms of managing psychological distress and building resilience of the terrorist perpetrator's family when one of their family members becomes a terrorist. Participants in this study were A's biological mother as the main participant and A's neighbor as the secondary informant. The result obtained from in-depth interviews and observations showed that the psychological dynamics and resilience of the A terrorist family, from the point of view of A’s mother, were formed in a process that was neither short nor easy. Psychological burdens include stress, shame, self-closure, anxiety and fear became obviously very dominant in the early phase, and slowly the formation of family resilience was achieved with the cooperation of A family members. Negative stigma and positive support from the surrounding community also colored the journey of forming the resilience of A’s Mother and her family, Key words: family resilience, terrorist, stigma, discrimination, psychological distress