Prosiding Seminar Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISBN : 978-602-73114-5-9 P-ISBN : 978-602-73114-4-2 MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP SISWA SMAN XYZ JAKARTA UTARA MELALUI PELATIHAN KONSELOR SEBAYA Sandi Kartasasmita 1 , Widya Risnawaty 2 , Denrich Suryadi 3 1)2)3) Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara Email: sandik@fpsi.untar.ac.id, denrichs@fpsi.untar.ac.id, widyar@fpsi.untar.ac.id ABSTRAK Tujuan dari dilaksanakannya Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup remaja. Salah satu program yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan kualitas hidup remaja adalah program pelatihan konselor sebaya. Program ini dilaksanakan di SMN XYZ, Penjaringan Jakarta Utara. Sekolah tersebut menjadi tempat dilaksanakannya PKM karena berdasarkan informasi yang didapatkan dari pihak sekolah, jumlah guru BP tidak sebanding dengan jumlah siswa yang berjumlah 720 siswa. Perbandingan yang cukup signifikan tersebut membuat para siswa tidak mendapatkan pelayanan konseling yang memadai. Adapun beberapa permasalahan yang kerap terjadi di sekolah dan belum dapat tertangani oleh guru BP adalah permasalahan yang berkaitan dengan (a) para siswa memiliki masalah yang beragam, seperti: motivasi berprestasi yang cenderung rendah, tindakan indisipliner, kesenjangan antar grup pertemanan, mendapat kekerasan verbal dari orang tua, perilaku berisiko pada remaja seperti perilaku seks bebas; (b) permasalahan siswa dalam hal akademik maupun psikologis belum tertangani dikarenakan minimnya sumber daya guru, khususnya jumlah guru BP yang tidak memadai (berkisar antara 1:720), (c) para siswa lebih memilih menceritakan masalah kepada teman sebayanya dibandingkan menceritakan masalahnya kepada guru BP, guru pengampu mata pelajaran, guru wali kelas, atau bahkan pada orang tua. Hasil dari PKM ini adalah terbentuknya tim konselor sebaya di SMAN XYZ yang dapat menjalankan perannya sebagai konselor, untuk dapat membantu guru BP. Kata Kunci : Remaja, Konselor Sebaya, Masalah Remaja, kompetensi 1. PENDAHULUAN SMAN XYZ yang berada di daerah penjaringan, Jakarta Utara merupakan salah satu sekolah negeri yang memiliki siswa berjumlah 720 orang dengan 1 orang guru BP. Perbandingan yang tidak seimbang antara guru BP dan siswa membuat para siswa tidak dapat dengan cepat dan mudah bertemu guru BP dalam rangka menceritakan masalah yang dihadapi. Masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari tersebut tidak dapat juga diceritakan kepada orangtua, sehingga pada akhirnya, permasalahan yang dihadapi para siswa diceritakan kepada teman sebaya. Menceritakan permasalahan kepada teman sebaya bukan sesuatu yang keliru, namun juga terkadang menjadi kurang tepat karena teman sebaya belum tentu memiliki kompetensi untuk menjadi pendengar yang baik. Berdasarkan kondisi tersebut, pihak sekolah mencoba untuk memetakan kondisi permasalahan yang dialami oleh para siswa. Adapun permasalahan yang dialami oleh para siswa SMAN XYZ terutama yang berkaitan dengan keluhan masalah psikologis seperti: (a) perasaan tertekan karena tuntutan orang tua yang tinggi terhadap hasil belajar; (b) kurang memiliki motivasi dalam berprestasi; (c) tercatat beberapa tindakan pelanggaran seperti membolos, tidak membuat tugas, melakukan tindakan bullying; (d) mengalami stres karena diabaikan atau bahkan dikucilkan oleh teman- temannya sehingga hubungan teman menjadi tidak baik; (d) hambatan dalam komunikasi antara siswa dengan teman-temannya di sekolah, dan adanya konflik antara siswa dengan orangtuanya. Pihak sekolah mendapati bahwa masalah psikologis yang dialami para siswanya terkait dengan pengalaman kekerasan yang dialami di rumah, khususnya kekerasan secara verbal. Ragam keluhan tersebut diperoleh dari hasil wawancara dalam survei yang dilakukan pada mitra, khususnya pada Kepala Sekolah, guru BP, beberapa wali kelas dan perwakilan siswa dari sekolah SMAN XYZ. Berdasarkan wawancara dengan pihak sekolah SMAN XYZ yang dilakukan pada awal Juni 2017, diperoleh gambaran bahwa jumlah siswa yang mengalami masalah psikologis tersebut semakin banyak. Namun saat ini pihak sekolah belum memiliki gambaran yang lebih pasti dari masing-masing masalah yang muncul. Sejumlah siswa yang memiliki masalah psikologis dikenali oleh pihak sekolah dari perubahan perilaku dan emosi yang dialami para