1 KATA-KATA TABU (MALI) DALAM BAHASA DAYAK KUBITN DI SERAWAI Margareta Yunita, Hotma Simanjuntak, Mellisa Jupitasari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Untan Pontianak Email: margaretayunita@student.untan.ac.id Abstract This study aims to describe the form and meaning of taboo words in the Kubitan Dayak language, the function of taboo words in the Kubitn Dayak language, references to euphemisms, and implementation in learning. The method used in this study is a qualitative descriptive method. Research approach, namely ethnolinguistics. Data collection techniques are direct observation techniques, refer to the conversation, record and take notes. This study resulted in 58 taboo words in the Dayak Kubitn language, monomorphemic word forms 21 taboo words, polymorphemic forms 5 taboo words and taboo word forms in the form of phrases as many as 32 taboo words. The meaning of taboo words is divided into three, lexical meaning 21 taboo words, grammatical meaning 37 taboo words, and cultural meaning 28 taboo words. The euphemism references are 9 data in the Kubitn Dayak language in Serawai. The function of cursing is 6 taboo words, insulting is 15 taboo words, swearing is 21 words, covering 15 words and the function of taboo words as a joke is 8 data. Keywords: Ethnolinguistics, Euphemism Reference, Function, Meaning, Taboo Words (Mali). PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi yang tidak terpisahkan dari manusia. Bahasa merupakan hal yang sangat penting, dengan adanya bahasa manusia dapat berkomunikasi dan memahami satu sama lain. Melalui bahasa juga, manusia dapat mengungkapkan ide, serta perasaan terhadap sesama. Bahasa itu bermakna sistem lambang bunyi. Sebuah lambang tentunya melambangkan sesuatu, yaitu suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau pikiran. Bahasa adalah ciri pembeda yang sangat menonjol, karena lewat bahasa tiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok lain. Setiap daerah tentu memiliki bahasa yang berbeda-beda, hal itu sangat penting untuk menentukan idetintas suatu daerah. Pemilihan bahasa BDKS sangat penting, “didasarkan pada fakta bahwa termasuk bahasa daerah yang tergolong penting karena termasuk bahasa memerlukan pelestarian” (Simanjuntak, 2020, p.85). Komunikasi sangat penting bagi masyarakat, dalam hal berkomunikasi tentu saja ada hal yang merupakan larangan atau pantangan. Tabu merupakan ungkapan larangan suatu kelompok masyarakat yang terikat oleh aturan-aturan adat yang harus ditaati. Tabu bahasa dapat berupa ucapan atau perbuatan. Jika melanggar sesuatu