JURNAL TEKNIK ITS Vol. 10, No. 2, (2021) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) E339 AbstrakPertumbuhan penduduk di wilayah pedesaan Kabupaten Jombang semakin tahun semakin meningkat tak terkecuali di Wilayah Perencanaan (WP) Ploso. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan pembangunan beberapa kawasan di Wilayah Perencanaan (WP) Ploso. Tingginya tingkat pembangunan berdampak pada kebutuhan akan fasilitas transportasi. Secara eksisting, trayek angkutan umum pedesaan yang melayani Wilayah Perencanaan (WP) Ploso belum mencakup keseluruhan wilayah WP, selain itu beberapa trayek sudah tidak beroperasi karena tingginya penggunaan kendaraan pribadi, sehingga menyebabkan beberapa wilayah belum terakomodasi oleh sarana transportasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji rute angkutan umum pedesaan yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan masyarakat WP Ploso. Metode analisis yang digunakan pada studi ini adalah analisis statistik deskriptif dan MAT (Matriks Asal-Tujuan), AHP (Analytical Hierarcy Process), dan penentuan rute terbaik dengan software Tranetsim (Transport Network Simulator). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-fsktor penentu rute angkutan pedesaan meliputi penggunaan lahan, permintaan perjalanan, dan karakteristik jaringan jalan. Hasil analisis perumusan rute angkutan umum pedesaan menunjukkan bahwa terdapat 7 rute treyek optimal angkutan umum pedesaan di WP Ploso Kabupaten Jombang. Kata kunciFaktor Penentu Rute, Trayek Angkutan Umum, Angkutan Umum Pedesaan. I. PENDAHULUAN RANSPORTASI merupakan sebuah proses pemindahan, pergerakan, mengangkut, dan mengalihkan, dimana proses ini tidak bisa lepas dari keperluan akan alat pendukung untuk menjamin lancarnya proses perpindahan sesuai dengan waktu yang diinginkan [1]. Pengertian lain, transportasi adalah permintaan turunan (derived demand), dimana seseorang melakukan bukan hanya dengan tujuan untuk melakukan perjalanan semata melainkan untuk tujuan tertentu, seperti bekerja, belanja, sekolah, dan lain sebagainya [2]. Dengan adanya kegiatan perpindahan orang atau barang, maka dibutuhkan unsur-unsur pendukung dalam transportasi, unsur-unsur tersebut meliputi adanya muatan yang diangkut, tersedianya kendaraan sebagai alat angkutnya, jalanan atau jalur yang dapat dilalui, adanya terminal asal dan terminal tujuan, serta tersedianya sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang menggerakkan kegiatan transportasi tersebut [3]. Angkutan pedesaan merupakan angkutan dari satu tempat ke tempat lain dalam satu daerah kabupaten yang tidak termasuk dalam trayek kota yang berada pada wilayah ibukota kabupaten dengan mempergunakan mobil bus umum atau mobil penumpang umum yang terikat dalam trayek [4]. Tersedianya angkutan umum diharapkan mampu melayani kepentingan masyarakat dalam mobilisasi aktivitasnya [5]. Namun permasalahan yang terjadi di daerah pedesaan saat ini adalah pembangunan dan perkembangan desa yang terhambat dan lambat akibat kurangnya sarana transportasi yang memadai [6]. Selain itu, tingginya pertumbuhan penduduk dan penggunaan kendaraan pribadi menyebabkan operasional angkutan pedesaan berjalan tidak efektif. Pertumbuhan penduduk di wilayah pedesaan yang semakin tahun semakin meningkat, menyebabkan kebutuhan akan fasilitas transportasi juga semakin tinggi. Namun, penyediaan sarana transportasi masih kurang memadai. Beberapa wilayah khususnya di daerah pelosok belum terakomodasi oleh sarana transportasi dengan baik. Dampak dari permasalahan ini tidak hanya dalam bidang ekonomi yaitu pendistribusian pertanian, melainkan juga dalam bidang lainnya seperti pendidikan, industri, dan kegiatan interaksi antar desa-kota lainnya. Permasalahan angkutan umum khusunya angkutan pedesaan ini hampir terjadi di seluruh wilayah di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Jombang. Angkutan umum pedesaan di Kabupaten Jombang pernah menjadi primadona pada era tahun 90-an. Masyarakat menggunakan angkutan umum sebagai sarana untuk mencapai tujuan dengan tarif terjangkau. Namun beberapa tahun terakhir ini, kondisi angkutan umum pedesaan di Kabupaten Jombang mengalami kemerosotan yang sangat signifikan. Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kabupaten Jombang dalam waktu 10 tahun terakhir, jumlah angkutan umum yang awalnya sebanyak 405 armada, kini hanya aktif sebanyak 165 armada. Selain itu, jumlah izin trayek yang awalnya 25 rute, kini hanya 12 rute saja yang beroperasi dan sisanya sudah tidak beroperasi lagi. Hasil wawancara dengan pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Jombang pada bulan Oktober 2020, disampaikan bahwa adanya kemerosotan operasional angkutan umum. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kemerosotan penggunaan angkutan umum di Kabupaten Jombang, salah satunya adalah penggunaan transportasi pribadi sebagai pilihan moda transportasi karena Kajian Optimalisasi Rute Trayek Angkutan Umum Pedesaan WP Ploso Kabupaten Jombang Dessy Anggraini Luckytasari Sutoyo dan Ketut Dewi Martha Erli Handayeni Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: erli.martha@urplan.its.ac.id T Gambar 1. Peta Segmen Ruas Jalan Penelitian.