Jurnal Poetika Vol. III No. 1, Juli 2015 67 ANTI-RASISME DALAM NOVEL PERJALANAN BURMESE DAYS KARYA GEORGE ORWELL Fitrilya Anjarsari S2 Ilmu Sastra UGM Email: ftrilyaanjarsari@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan Orwell dalam menuliskan tulisan (laporan) perjalanan. Adanya pergeseran baik dari segi bentuk, isi, maupun fungsi dari tulisan perjalanan menggiring peneliti untuk membongkar posisi Orwell dalam laporan perjalanan. Pendekatan penelitian ini menggunakan konsep negosiasi, self and othering milik Carl Thompson, sehingga ditemukan bagaimana posisi dan peranan Orwell dalam melihat sekaligus menanggapi situasi politik apartheid (rasis) di Burma yang juga secara langsung akan mengungkap kecenderungan pengaruh yang ada di dalam diri Orwell. Kata kunci: Rasisme, Travel Writing, Negosiasi, Self and Othering. Abstract This research is aimed to analyze Orwell’s role in writing a travel writing. Shifting in type, main story, and function of a travel writing leads the researcher to reveal Orwell’s position in it. Approach applied in this research is the concept of negotiation; self and othering by Carl Thompson. It will help the researcher to fnd out the position and role of Orwell in seeing and responding to apartheid political situation (racism) in Burma. This will also directly reveal the tendential infuences existing in Orwell himself. Keywords: Racism, Travel Writing, Negotiation, Self and Othering Pendahuluan Travel writing atau laporan perjalanan merupakan satu hal yang baru ketika hal tersebut dikatakan sebagai sebuah karya sastra. Seperti catatan pada umumnya, travel writing hanya sebuah catatan biasa yang objektif pada setiap laporannya, namun hal tersebut dapat diperdebatkan ketika bahasa yang digunakan dalam pemaparan sebuah laporan adalah bahasa subjektif yang ekspresif layaknya bahasa sastra. Oleh karena itu, pengkajian terhadap sebuah laporan perjalanan dari segi kesusastraan dapat tetap dilakukan melihat dari bentuk bahasa yang digunakan. Perjalanan merupakan kegiatan di mana ada gerakan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam perpindahan tersebut, tentu subjek akan bertemu dengan hal-hal biasa atau pun hal yang sama sekali baru bagi dirinya. Adapun pertemuannya tersebut dituliskan dalam bentuk sebuah catatan. Carl Thompson mendefnisikan sebuah perjalanan yakni travel sebagai “an encounter between self and other that’s brought about by movement throught and space”, dan laporan perjalanan sebagai “is at some level a record or product of this encounter, and of the negotiation between similarity and difference that it entailed” (2011: 10). Hal yang perlu diingat dari pengertian travel writing menurut Thompson, yakni pertemuan antara self dan other yang kemudian menimbulkan negosiasi yang berimplikasi pada keduanya sebagai konsekuensi sebuah perjalanan. Sebuah laporan perjalanan tidak hanya berisi semua gambaran pengalaman penulis atas perjalanannya. Dalam penulisan laporan perjalanan, hanya pengalaman yang dianggap baru bagi penulis yang dituliskan sebagai laporan. Ada penyeleksian yang ketat dilakukan oleh penulis dalam menuliskan laporannya tersebut termasuk anggapan subjektifnya. Menurut Thompson, hal tersebut merupakan proses transliterasi dari travel experience ke dalam travel text (2011: 62). Adapun hal-hal yang dimuat dalam laporan perjalanan ditentukan oleh tujuan perjalanan itu dilakukan. Thompson (2011: 104) mengatakan “the chief duty prescribed brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal POETIKA