BIO-Lectura: Jurnal Pendidikan Biologi, Vol 9 No 2 Oktober 2022,150-159 E-mail: moh.fahriharuna@yahoo.com https://journal.unilak.ac.id/index.php/BL STRUKTUR KOMUNITAS KEPITING BAKAU DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DESA POLO KECAMATAN BUNTA KABUPATEN BANGGAI Moh. Fahri Haruna 1) , Wahyudin Abd. Karim 2) , Risna Rajulani 3) , Firga Nabila Lige 4) 1234 Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Luwuk, Indonesia ABSTRACT ARTICLE HISTORY This study aims to determine the types and communities of mangrove crabs in the mangrove conservation area of Polo Village, Banggai Regency. The method used is a line transect plot made of 2 lines, 100 meters long for each line transect. There are 4 plots measuring 10 x 10 m², so there are 8 plots. Analysis of the data using the index of diversity, uniformity, dominance and Frequency of Attendance. The results showed that mangrove crabs in the mangrove conservation area of Polo Village found 6 species, namely Uca bellator, Uca dussumieri, Uca inversa, Parasesarma leptosoma, and Myomenippe sp. The diversity index has moderate criteria (1.4280). The value of uniformity has high criteria (0.7970). The dominance index value with low criteria (0.0083-0.4155). The highest presence value was in the species Uca bellator and Parasesarma leptosoma with a value of 100% while the lowest was in the species Myomenippe sp. and Scylla serrata, which was 25%. Received 20 July 2022 Revised 10 Oktober 2022 Accepted 25 Oktober 2022 KEYWORDS Conservation Area, Mangrove Crab, Community Structure Pendahuluan Hutan mangrove memiliki peranan yang sangat penting sebagai habitat dan penyedia unsur hara di daerah ekosistem pesisir pantai. Sehingga perlu adanya pengetahuan dan perilaku yang baik dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove (Haruna dkk, 2018), agar tidak terjadi kerusakan ekosistem mangrove. Mangrove memiliki fungsi baik secara fisik seperti berfungsi untuk menahan abrasi pantai, gelombang air laut, hempasan angin ke darat, dan juga dapat berperan sebagai perisai alam serta dapat menstabilkan tanah dengan fungsi sebagai penangkap berbagai endapan bahan material daratan yang dibawah oleh air sungai dan ke arah laut yang dibawah arus laut (Saragi and Desrita, 2018). Dilihat dari segi ekologis, terkait peranannya sebagai habitat flora dan fauna air, hutan mangrove juga berfungsi untuk wadah memijah, habitat mencari makan, dan habitat pembesaran bagi kepiting. Hal tersebut menjadikan lingkungan mangrove sebagai tempat berlindung dan sumber kehidupan bagi makhluk yang tinggal dan menetap di daerah perairan estuari dan laut. Komposisi fauna makrobentik pada hutan mangrove bermacam-macam, diantaranya kepiting yang merupakan spesies paling menonjol. Fauna ini berperan utama dalam menghancurkan bahan organik yang selanjutnya dipermudah oleh mikroflora, yang akhirnya melepaskan rangkaian unsur hara (Rauf dkk, 2016). Selain itu, kepiting sering dipakai sebagai indikator tingkat pencemaran perairan. Hal ini karena kepiting sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya (Hamidy, 2010). Oleh karena itu kepiting dijadikan sebagai ukuran produktivitas dan kualitas suatu perairan. Sedangkan secara ekologis kepiting berperan mengkonversi nutrient, perbanyak jumlah mineral dan banyak mendistribusi oksigen kedalam