44 J. Hort. Vol. 25 No. 1, 2015 J. Hort. 25(1):44-53, 2015 Teknologi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Pada Budidaya Kentang Toleran Suhu Tinggi (Plant Pest Organisms Control Technology at High Temperature Tolerant Potato Cultivation) Prabaningrum, L, Moekasan, TK, Sulastrini, I, dan Sahat, JP Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jln. Tangkuban Parahu No. 517, Lembang, Bandung Barat 40391 E-mail: laksminiwati@yahoo.co.id Naskah diterima tanggal 16 Juni 2014 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 12 September 2014 ABSTRAK. Pengembangan kentang di dataran medium dihadapkan pada kendala serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengendalian untuk mengatasinya. Tujuan penelitian adalah untuk merakit teknologi pengendalian OPT yang dikombinasikan dengan penggunaan klon toleran suhu tinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Cibulakan (600 m dpl.), Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Juni sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Macam perlakuan yang diuji adalah (A) teknologi pengendalian OPT (a 1 = rakitan teknologi PHT dan a 2 = rakitan teknologi konvensional) dan (B) klon/varietas kentang ( b 1 = MB 17, b 2 = CIP 394614.117, b 3 = CIP 392781.1, dan b 4 = Granola). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rakitan teknologi PHT mampu menekan serangan trips, tungau, kutudaun, kutukebul, dan ulat grayak hingga di bawah ambang pengendalian, kecuali penyakit layu bakteri. Dengan penerapan rakitan teknologi PHT penggunaan pestisida dapat ditekan sebesar 97–100%. Klon CIP 392781.1 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dan hasil panennya lebih tinggi dibandingkan dengan klon CIP 394614.117. Selain itu kandungan bahan kering CIP 392781.1 cukup tinggi sebesar 18,22%. Klon CIP 392781.1 mempunyai harapan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan teknologi pengendalian penyakit layu bakteri dan teknologi untuk menurunkan suhu tanah agar hasilnya optimum. Katakunci: Solanum tuberosum L.; Toleran suhu tinggi; Organisme pengganggu tumbuhan ABSTRACT. Pest and disease infestation is one of constraint factors in development of potato in mid level area.Therefore it is needed a technology for controlling them. This study aimed to assemble the IPM combined with the use of high temperature tolerant clones. Study on pest and disease control technology in cultivation of heat tolerant potato was conducted in June until October 2012 at Cibulakan Village (600 m asl.), Cugenang Subdistrict, Cianjur District, West Java. The research used randomized block design in factorial pattern with three replication. The treatments tested were (A) pests and disease control technology (a 1 = IPM and a 2 = conventional) and (B) potato clons/varieties (b 1 = MB 17, b 2 = CIP 394614.117, b 3 = CIP 392781.1, and b 4 = Granola). The result showed that IPM technology was able to suppress thrips, mite, aphid, whitefy, and army worm under control threshold, except bacterial wilt. Implementation of IPM technology was able to reduce application of pesticide of 97–100%. Clone CIP 392781.1, was more tolerant to bacterial wilt and the yield was higher than CIP 394614.117. Its dry matter was high enough, 18,22%. Heat tolerant clon CIP 392781.1 has a prospect to be developed with supported by bacterial wilt control technology and technology for decreasing soil temperature to get optimum yield. Keywords: Solanum tuberosum L.; Heat tolerant; Pest and disease Kentang ( Solanum tuberosum L. ) berpotensi dikembangkan sebagai sumber karbohidrat untuk menunjang diversifkasi pangan, komoditas ekspor, dan bahan baku industri pengolahan. Namun demikian, mengingat karakteristik tanaman kentang yang beradaptasi baik di dataran tinggi maka hal penting yang perlu diantisipasi adalah dampak negatif terhadap sumber daya alam akibat upaya peningkatan produksi (Adiyoga 2009). Oleh karena itu pengembangan kentang ke dataran yang lebih rendah merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh. Sampai saat ini pengembangan kentang di dataran medium (300–700 m dpl.) mengalami berbagai kendala, salah satu di antaranya adalah serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Basuki et al. (2013) melaporkan bahwa pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 di dataran medium (680 m dpl.), kutudaun, trips, dan penyakit busuk daun ftoftora menjadi OPT utama yang menurunkan produksi sebesar 37,2%. Soesanto et al. (2011) melaporkan bahwa patogen tular tanah yang umum menyerang kentang ialah Phytophthora, Fusarium, dan Ralstonia, yang masing-masing menyebabkan penyakit busuk daun, layu fusarium, dan layu bakteri. Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan penyakit tersebut dapat mencapai 90%. Selanjutnya dilaporkan pula bahwa peningkatan kepadatan patogen tular tanah tersebut searah dengan penurunan ketinggian tempat. Selain itu tingginya suhu di dataran medium juga menjadi kendala. Levy & Veilleux (2007) menyatakan bahwa suhu tanah optimum untuk pembentukan umbi kentang berkisar antara 15–18 o C, suhu tanah dan udara yang tinggi menurunkan hasil. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Hortikultura