PERSEPSI DAN TRANSFORMASI VISI DAN MISI PADA CIVITAS AKADEMIKA STAIN PEKALONGAN Imam Kanafi Salafuddin M. Yasin Abidin Aris Nur Hamidi * Abstrak: Penelitian ini mengukur tingkat persepsi visi dan misi civitas akademika STAIN Pekalongan, dan mengukur juga tingkat implementasi sebagai transformasi visi misi tersebut serta menemukan hubungan antara persepsi dengan implementasinya. Kajian ini memiliki signifikan yang strategis dalam konteks manajemen dan pengembangan Pendidikan di STAIN Pekalongan dan lembaga pendidikan lainnya. Hal ini karena posisi visi dan misi sebagai kerangka acuan (frame of reference) yang mengarahkan dan menjelaskan kepada keseluruh unsur civitas akademika dalam setiap program kerjanya. Kata Kunci: persepsi, visi, misi, implementasi Pendahuluan Sebagaimana dalam dunia bisnis-industri, dewasa ini, lembaga pendidikan juga dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional mencanangkan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia memiliki kualitas yang berstandar internasional ( Sindo, 24 Maret 2009). Dengan demikian, langkah yang harus ditempuh untuk mewujudkan hal itu tiada lain adalah dengan meningkatkan manajemen dan penjaminan mutu (management and quality assurance). Masalah penjaminan mutu perguruan tinggi akhirnya menjadi masalah krusial yang harus diaplikasikan oleh seluruh perguruan tinggi. Oleh karennya pada setiap perguruan tinggi harus membentuk unit kelembagaan khusus yang manangani masalah peningkatan dan penjaminan mutu. Dengan alasan itulah, maka STAIN Pekalongan mengadakan sarasehan untuk mencari model pejaminan mutu di perguruan tinggi (19 Maret 2009), yang di antaranya menekankan bahwa mutu suatu lembaga pendidikan tinggi akan ditentukan oleh proses-proses yang bercirikan: (a) memenuhi standar kinerja yang ditetapkan, (b) memenuhi tujuan yang telah ditentukan, (c) zero defect, (d) excellency, dan (e) memenuhi kepuasan stakeholders (Zaeni, 2009: 6). Penerapan manajemen mutu pada lembaga manapun, termasuk perguruan tinggi, memerlukan suatu pedoman kerja yang memberikan pengarahan atas hasil atau tujuan aktifitas yang diharapkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pengarahan ini akan memberikan orientasi yang seragam bagi setiap elemen atau sub-sistem dalam lembaga tersebut sehingga terbentuk kesatuan kerja yang efektif dan kompak dalam usaha lembaga manuju hasil kerja yang diharapkan. Setiap elemen sub-sistem, pimpinan dan anggotanya mengetahui dengan jelas arah pengembangan lembaga tempat kerjanya (www.eng.unri.ac.id). Arah kerja itulah yang dinamakan sebagai visi dan misi. Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan manajemen mutu, maka langkah awalnya harus dimulai dan berdasarkan visi dan misi kelembagaan (Zaeni, 2009). Dalam rangka melaksanakan dan mewujudkan manajemen asuransi mutu pendidikan di STAIN Pekalongan sebagaimana telah menjadi tuntutan, keberadaan visi dan misi sangatlah * Dosen Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan