ANALISIS KUALITAS SALA TERASI Lucy Fridayati, Rahmi Holinesti, Anni Faridah, dan Wirnelis Syarif Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang Email: lucyfridayati@yahoo.co.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan terasi terhadap kualitas sala lauak yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan eksperimen dengan metode rancangan acak lengkap (RAL), yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil uji organoleptik pada kualitas sala terasi bentuk (bulat) bentuk (bulat) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 40gr (X2) dengan kategori berbentuk bulat, kualitas bentuk (seragam) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 0gr (X0) dengan kategori seragam, kualitas warna kulit (kuning kecoklatan) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 60gr (X4) dengan kategori kuning kecoklatan, kualitas warna isi (kuning kecoklatan) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 60gr (X4) dengan kategori mendekati kuning kecoklatan, kualitas aroma (terasi) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 60gr (X4) dengan kategori mendekati sangat beraroma terasi, kualitas tekstur kulit (renyah) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 60gr (X4) dengan kategori mendekati renyah, kualitas tekstur isi (berongga) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 0gr (X0) dan 40 gr (X2) dengan kategori mendekati berongga, kualitas tekstur rasa (gurih) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 50gr (X3)dengan kategorigurih, kualitas tekstur rasa (terasi) skor tertinggi terdapat pada perlakuan 60gr (X4) dengan kategori mendekati sangat beraroma terasi.Sala terasi memiliki kadar karbohidrat 32,16%; kadar protein 2,50%; kadar lemak 16,26%; kadar air 45,94%; dan kadar abu 2,54%. Kata kunci-Sala lauak, Terasi, Kualitas. PENDAHULUAN Pariaman merupakan salah satu wilayah pesisir di Sumatera Barat. Kota Pariaman adalah daerah pariwisata yang terkenal dengan keindahan pantai dan lautnya. Pada umumnya masyarakat disana bermata pencaharian sebagai nelayan. Hasil laut yang diperoleh dijual secara langsung maupun diawetkan terlebih dahulu. Salah satu hasil awetan ikan yang banyak dijumpai adalah ikan asin. Ikan asin banyak dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam proses pembuatan sala lauak yang merupakan makanan khas Pariaman. Sala lauak terbuat dari tepung beras, ikan asin serta bumbu-bumbu lainnya dan digoreng hingga kuning keemasan. Sala lauak merupakan panganan tradisional yang memiliki mutu dan daya saing tinggi dipasaran. Semua kalangan bisa mengkonsumsi dan menikmati sala lauak.Akan tetapi persaingan pasar yang terjadi disaat perekonomian negara yang sedang berkembang membuat sala lauakharus bersaing dengan jajanan modern atau makanan cepat saji. Menurut Evi Heryanti (2009:5) “Saat ini masyarakat cenderung lebih menyukai makanan cepat saji ( fast food) yang tinggi lemak, protein, karbohidrat dan natrium yang jika dikonsumsi secara terus menerus dengan porsi yang berlebihan akan berdampak meningkatnya kecenderungan kelebihan berat badan ( overweight) yang merupakan salah satu faktor resiko kejadian penyakit degeneratif”. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan yang salah akan menyebabkan masalah gizi dan perilaku makan tersebut dipengaruhi oleh aneka faktor sosial, ekonomi, budaya dan ketersediaan pangan. Analisis data menunjukkan adanya kecenderungan perilaku konsumsi makanan jadi (termasuk minuman) yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tindakan kecil yang bisa dilakukan untuk mempertahankan panganan tradisional adalah dengan cara memvariasikan atau mengembangkan rasa dari sala lauak tersebut. Sala lauak biasanya dijadikan kudapan yang dihidangkan dalam keadaan panas. Masyarakat sekitar juga terbiasa mengkonsumsi sala lauak sebagai pendamping makan lontong, makan sate atau dikonsumsi seperti makan gorengan. Berdasarkan pengamatan penulis kudapan ini sangat disukai, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bentuknya yang bulat seperti bola pingpong dan memiliki rongga ditengahnya menjadi ciri khas tersendiri.Sala lauak terbuat dari tepung beras yang digonseng, cabe giling, bumbu-bumbu, garam, air dan ikan asinkemudian digorenghingga kuning keemasan.