59 Pangadereng: Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol. 8 No. 1, Juni 2022: DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.237 KONEKTIVITAS BANDAR-BANDAR DI JALUR REMPAH DALAM NOVEL ARUS BALIK THE PORTS CONNECTIVITY ON THE SPICE ROUTES IN ARUS BALIK NOVEL Muhamamad Fadli Muslimin Kajian Sastra dan Budaya, Institut Seni Budaya Indonesia Aceh Jln. Transmigrasi, Gampong Bukit Meusara, Kec. Kota Jantho, Kab. Aceh Besar, 23911,Aceh fadlimuslimin@gmail.com Naskah diterima 31-3-2022. Naskah direvisi 24-4-2022. Naskah disetujui 27-5-2022 ABSTRACT The port serves as a crucial hub for traders from other countries and locals to do business and share information. Pramoedya Ananta Toer eloquently highlights the function of ports as a site for trading operations and signifcant historical events in his historical literary work Arus Balik. This research aims to uncover the function of ports in spice route connection and the social dynamics that transpired between 1510 and 1530. The study’s issues include how to characterize the spice trade’s route and practice, the city’s function and description, and the emerging social dynamics. The research method employed is a detailed description that focuses on interpreting events in the work while taking into account contextual factors. The data show that the ports of Malacca, Tuban City, Banten, Jepara, Gresik, Lao Sam, Sunda Kelapa, and Maluku are the central locations for spice shipping, trading, and distribution. The ports depict numerous responsibilities and services and historical events, particularly the archipelago’s royal feet’s alliance. The conclusion is that as the hub of the spice route network, the port serves a social function and role in strengthening, stabilizing, and maintaining each kingdom’s collective and internal interests. Keywords: spices route, port, connectivity ABSTRAK Bandar menjadi tempat vital sebagai pintu gerbang masuknya para pedagang dari bangsa lain dan juga lokal untuk melakukan aktivitas perdagangan sekaligus transfer pengetahuan. Di dalam karya sastra sejarah Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan secara apik bagaimana peran bandar- bandar yang tidak saja sekaligus sebagai tempat aktivitas perdagangan tetapi juga menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang tercatat oleh sejarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan peran bandar-bandar sebagai bagian dari konektivitas jalur rempah dan dinamika sosial yang terjadinya pada periode 1510-1530. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana penggambaran jalur dan praktik perdagangan rempah, peran dan penggambaran bandar, dan dinamika sosial yang berkembang. Metode penelitian yang digunakan adalah thick description yang berfokus pada interpretasi peristiwa di dalam karya dengan mempertimbangkan unsur kontekstualnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sembilan bandar yang menjadi sentra pelayaran, perdagangan dan pendistribusian rempah, yaitu Malaka, Tuban, Banten, Jepara, Gresik, Lao Sam, Sunda Kelapa, dan Maluku yang menjadi sorotan utama. Bandar tersebut menunjukkan peran dan fungsinya yang berbeda-beda serta beragam peristiwa sejarah, utamanya aliansi armada kerajaan Nusantara. Kesimpulannya adalah bandar sebagai jantung dari konektivitas jalur rempah memainkan fungsi dan peran sosialnya sebagai sarana menguatkan, menstabilkan, sekaligus mempertahankan kepentingan kolektif dan internal masing-masing kerajaan. Kata kunci: jalur rempah; bandar; konektivitas.