Halaman 1 dari 17 Analisis Perbedaan Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian Menjadi Lahan Terbangun Di Daerah Pinggiran Kota Dan Desa-Kota Vivy Nur Anifa vivy.n.a@mail.ugm.ac.id Andri Kurniawan andri.kurniawan@ugm.ac.id , Abstrak Kecamatan Depok dan Kecamatan Ngaglik merupakan daerah pinggiran kota dan desa-kota yang masif perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi luas dan jenis perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi terbangun di Kecamatan Ngaglik dan Kecamatan Depok, menganalisis perbedaannya, dan menganalisis kebijakan tata ruangnya. Metode yang digunakan adalah dengan overlay peta penggunaan lahan pertanian pada tahun 2012 dan 2018 dan uji beda SPSS. Pola perubahan penggunaan lahan dilakukan dengan melihat asosiasi dengan penggunaan lahan eksisting terdekat dan analisis tetangga terdekat dengan ArcGIS. Overlay juga dilakukan dengan peta zona. Hasil dari penelitian ini adalah perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun baik di Kecamatan Ngaglik dan Kecamatan Depok didominasi perubahan lahan pertanian menjadi lahan perumahan. Perubahan luas lebih besar di Kecamatan Ngaglik dibanding di Kecamatan Depok, tetapi tidak berbeda signifikan. Lahan pertanian di kedua kecamatan masih banyak diproteksi namun banyak pula yang belum sesuai arahan tata ruangnya. Kata kunci: kata kunci1, perubahan lahan lahan pertanian, pinggiran kota, desa-kota, perbedaan, rencana tata ruang Abstract Depok and Ngaglik Sub-districts are periurban and rural-urban areas with massive land use changes of agricultural land into built-up land. This research aims to identify the amount and types of agricultural land-use changes into built up land in Ngaglik and Depok Sub-districts, analyze the differences, and analyze the spatial plan regulation. The method used is by overlaying agricultural land use maps in 2012 and 2018 and SPSS difference-test. Land use pattren seen based on association and proximity and nearest neighbour analysis using ArcGIS. Overlay also done with zone maps. The results of this study are land use changes of agricultural land into built-up land in both Ngaglik and Depok sub-districts, dominated by changes in agricultural land into residential land. Land use changes of agricultural land was higher in Ngaglik Sub-district than in Depok Sub-district but not significantly different. There are many agricultural land in both sub-district that are protected, but many are not match with the spatial direction. Keywords: agricultural land change, periurban, rural-urban, differences, spatial planning PENDAHULUAN Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan kebutuhan pemenuhan kebutuhan dasar akan tempat tinggal semakin meningkat. Kusrini (2011) menyatakan bahwa pertambahan jumlah penduduk di kota akan memberikan dampak pada meningkatnya kebutuhan lahan. Penelitian dari Yunus (2001) menunjukkan bahwa perkembangan Kota Yogyakarta ditandai dengan meningkatnya lahan permukiman dan lahan non pertanian lahan terbangun lebih mengarah ke arah utara dan selatan. Yunus (2001) menyebutkan bahwa lahan pertanian menjadi salah satu lahan yang cukup banyak dialihfungsikan untuk memenuhi kebutuhan lahan permukiman dan lahan terbangun lainnya di pinggiran Kota Yogyakarta sebelah utara (Kabupaten Sleman). Fungsi-fungsi perkotaan seperti industri, jasa, pendidikan, perdagangan, rekreasi, dan lainnya