H.8 Prosiding SNST ke-8 Tahun 2017 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang 41 IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR DI TEMPAT WISATA BANTIR SUMOWONO SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA LONGSOR Edu Dwiadi Nugraha * , Supriyadi, Eva Nurjanah, Retno Wulandari, Trian Slamet Julianti Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang Gedung D7 Kampus Unnes Sekaran Gunungpati Semarang *Email : edunugraha@gmail.com Abstrak Telah dilakukan penelitian identifikasi bidang gelincir di Desa Bantir Kabupaten Semarang dengan menggunakan alat geolistrik tahanan jenis multichanel S-Field 16 elektroda dengan konfigurasi Wenner sebanyak 5 lintasan. Masing-masing lintasan memiliki panjang 150 meter dan spasi antar elektroda 10 meter. Pengolahan data dilakukan menggunakan software Res2Dinv versi 3.45. Berdasarkan hasil pengolahan dan interpretasi menunjukkan bahwa di lokasi penelitian terdeteksi litologi antara lain lempung, batu pasir, hingga andesit. Bidang gelincir berupa lapisan lempung dengan nilai tahanan jenis antara 19,3 Ωm sampai 60 Ωm ditemukan pada lintasan 1 dan 2. Untuk lintasan 1 ditemukan pada kedalaman 20 sampai 25 meter, dan untuk lintasan 2 ditemukan pada kedalaman 13 sampai 27 meter Kata kunci : geolistrik tahanan jenis, tanah longsor, bidang gelincir. 1. PENDAHULUAN Bencana tanah longsor sering dikaitkan dengan datangnya musim penghujan. Bencana tanah longsor (landslide) menjadi masalah yang umum pada daerah dengan kemiringan yang curam (Darsono dkk., 2012). Longsor atau sering disebut gerakan tanah/batuan adalah suatu peristiwa pergerakan puing-puing batuan atau tanah menuruni sebuah lereng (Cruden, 1991). Longsoran merupakan salah satu masalah yang banyak terjadi pada lereng alam maupun buatan, dan merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, terutama pada musim hujan sehingga mengakibatkan kerugian materil yang cukup besar serta menelan korban jiwa (Wahyono dkk., 2011). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan survei daerah yang mengalami gerakan tanah, khususnya menentukan litologi perlapisan batuan bawah permukaan serta menentukan kedalaman bidang gelincir. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya pencegahan terjadinya bencana alam tanah longsor. Tujuan dari survei geolistrik tahanan jenis adalah untuk mengetahui distribusi tahanan jenis bawah permukaan dengan melakukan pengukuran pada permukaan (Loke dan Barker, 1996). Tahanan jenis ini dapat menggambarkan berbagai macam parameter geologi, seperti mineral, fluida dan porositas pada batuan. Prinsip dasar dari metode ini adalah dengan injeksi arus listrik ke dalam bumi melalui dua buah elektroda arus, kemudian besarnya beda potensial diukur dengan dua buah elektroda potensial. Pengukuran arus, beda potensial, variasi jarak elektroda arus dan elektroda potensial (faktor geometri) akan menghasilkan harga tahanan jenis lapisan di bawah titik ukur. Persamaan 1 digunakan untuk menyatakan besaran tahanan jenis semu dari hasil pengukuran. (1) dimana ΔV adalah beda potensial, I adalah besar arus dan k adalah faktor geometri. Persamaan 2 digunakan untuk menyatakan nilai faktor geometri. (2) dimana a adalah jarak spasi antar elektroda. Konfigurasi Wenner tersebut memiliki jarak spasi antar elektroda yang sama, yaitu jarak C 1 P 1 = P 1 P 2 = C 2 P 2 dimana C adalah elektroda arus dan P adalah elektroda potensial. Konfigurasi yang digunakan pada penelitian ini adalah konfigurasi Wenner dengan susunan elektrodanya seperti pada gambar 1.