509 Jurnal Kedokteran Unram 2021,10(3):509-514 ISSN 2301-5977, e-ISSN 2527-7154 jku.unram.ac.id ARTIKEL PENELITIAN RESEARCH ARTICLE Prevalensi dan Karakteristik Pasien Katarak Senilis di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Periode Januari-Juni 2019 Cindra Indah Salsabila 1* , Monalisa Nasrul 2 , Ni Nyoman Geriputri 2 PENDAHULUAN Katarak merupakan penyebab gangguan penglihatan kedua di dunia dengan prevalensi 25,81% setelah gangguan refraksi yang tidak terkoreksi sebesar 48,99%. Katarak juga menjadi penyebab kebutaan terbanyak (34,47%) diikuti oleh gangguan refraksi yang tidak terkoreksi (20,26%) dan glaukoma (8,30%). 1 World Health Organization melaporkan bahwa katarak lebih banyak terjadi pada usia diatas 50 tahun, dengan prevalensi yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia. 2 Indonesia termasuk ke dalam lima negara dengan jumlah penduduk yang mengalami gangguan penglihatan terbanyak. Prevalensi kebutaan pada penduduk usia lebih dari 50 tahun adalah 3% yang mana penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan tersebut adalah katarak. Katarak mencangkup 77,7% dari seluruh kasus kebutaan dan gangguan penglihatan di usia lanjut tersebut. 1 Penuaan merupakan penyebab tersering seseorang mengalami katarak dengan peningkatan risiko katarak dimulai saat usia 40 tahun. Katarak yang disebabkan oleh penuaan ini disebut dengan katarak senilis. 3,4 Pada katarak yang masih ringan, pasien mungkin belum memiliki gejala apapun. Tetapi, semakin bertumbuhnya katarak dapat menyebabkan berbagai perubahan penglihatan seperti: penglihatan kabur, warna tampak pudar, dan tidak bisa melihat dengan baik di malam hari. 5 Jumlah penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berusia 50 tahun dan lebih pada tahun 1 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram 2 Staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram – RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat *Korespondensi: cindraindah99@gmail.com Abstrak Latar Belakang: Katarak merupakan penyebab kebutaan terbanyak di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa katarak lebih banyak terjadi pada usia diatas 50 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik pasien katarak senilis yang terdapat di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potonglintang menggunakan data rekam medis. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien katarak berusia 50 tahun atau lebih di RSUD Provinsi NTB pada periode penelitian dan tanpa adanya riwayat trauma mata yang diketahui. Hasil: Prevalensi katarak senilis yang terdapat di RSUD Provinsi NTB pada periode Januari-Juni 2019 berjumlah 192 pasien (70,6%). Berdasarkan karakteristik demografi, penderita katarak senilis terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki (54,7%), pada usia 56-65 tahun (45,3%), serta berdomisili di Kota Mataram (37,5%). Berdasarkan karakteristik klinis, pasien paling banyak mengalami katarak senilis pada kedua bola mata (60,4%), visus naturalis <3/60 (43,3% mata kanan dan 41,8% mata kiri), visus koreksi terbaik <3/60 (42% mata kanan dan 39,2% mata kiri), dan stadium imatur (66,7% mata kanan dan 66,5% mata kiri) serta dari 192 pasien terdapat 123 pasien dengan penyakit penyerta. Jika dikaitkan antara stadium katarak dengan visus, maka mata pasien paling banyak mengalami katarak stadium imatur dengan gangguan penglihatan sedang (visus <6/18-6/60). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini, katarak senilis merupakan jenis katarak terbanyak dan sebagian besar pasien datang sudah dengan kebutaan.