Proseding Seminar Tugas Akhir Teknik Elektro FTI-ITS, Januari 2015 Analisis Perancangan Hotel BTS Pada Mass Rapid Transport di Surabaya Bagas Prasetya Putra, Istas Pratomo, Gatot Kusrahardjo Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jalan Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: bagaspp11@gmail.com, istaspra@ee.its.ac.id, gatot-kus@ee.its.ac.id Abstrak – Pertumbuhan pelanggan yang ada sekarang ini mengakibatkan perlunya pertambahan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) agar mendapatkan kinerja operator yang maksimal. Pada kota-kota besar banyak mengalami kendala masalah perizinan lahan sehingga tidak memungkinkan dibangun tower base station baru. Di lain pihak, operator-operator telekomunikasi harus dapat melayani trafik dari pelanggan yang semakin banyak. Distributed Antenna System atau dikenal dengan BTS Hotel menawarkan teknologi base station yang dipusatkan pada satu lokasi yang kemudian akan melayani beberapa remote site. Pada tiap remote site tersebut akan dihubungkan langsung oleh sebuah single fiber untuk menjangkau area tersebut. Sehingga memungkinkan cakupan area base station dapat lebih luas dan menjangkau daerah yang terdapat halangan bangunan/gedung. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk merancang BTS Hotel dengan teknologi LTE pada jalur Mass Rapid Transit (MRT) di Surabaya sebagai solusi dari perluasan area dan peningkatan pelayanan dengan melakukan perencanaan capacity planning, coverage planning dan jaringan serat optik. Hal ini dilakukan untuk mengestimasi jumlah eNode B dan luas cakupan dari tiap remote site. Pada perancangan BTS Hotel dengan teknologi LTE yang telah dilakukan pada jalur tram didapatkan nilai OBQ 14,45 Mbps/Km2 dan kapasitas sel 17,78 Mbps. Luas cakupan sel sebesar 1,16 Km2, jumlah eNode B 24 buah, dan radius 668 m. Jaringan fiber optik yang dirancang memiliki 5 link dan telah memenuhi parameter margin daya diatas nol. Kata Kunci – BTS Hotel, LTE, Capaciy Planning, Coverage Planning I. PENDAHULUAN Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dan bertambahnya jumlah pelanggan telekomunikasi mempengaruhi kapasitas sistem jaringan seluler yang ada sekarang. Kebutuhan pelanggan telekomunikasi yang semakin bergeser kearah mobile meningkatkan permintaan akses data terutama di kota besar seperti Surabaya. Terlihat dampak dari pertumbuhan ini dengan terjadinya overload pada suatu layanan dan mengakibatkan layanan tersebut tidak sesuai dengan standar layanan yang ada. Dalam hal ini pemerintah telah memberikan target untuk operator yaitu, downlink bitrate per user mencapai 512 Kbps [1]. Untuk mendapatkan kualitas layanan yang baik harus melakukan perluasan area jaringan seluler dengan membangun beberapa Tower BTS yang baru. Namun untuk mengatasinya pada kota-kota besar mengalami kendapa pada perizinan lahan sehingga tidak memungkinkan dibangun tower BTS baru. Surabaya sebentar lagi akan melakukan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT). Dengan dua macam model transportasi yaitu, trem dan monorel [2]. Nantinya MRT ini akan melewati ruas-ruas yang menghubungkan CBD (Central Business District) di Surabaya. Dengan hadirnya MRT ini di kota Surabaya diharapkan dapat tercapainya kualitas layanan angkutan umum, mengurangi kemacetan lalu lintas, dan memberikan alternatif pilihan angkutan umum. Untuk itu perlu dipersiapkan juga infrastruktur telekomunikasi yang baik dalam rangka mewujudkan kota Surabaya sebagai Smart City. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan perencanaan infrastruktur Distributed Antenna System atau dikenal dengan nama BTS Hotel. BTS Hotel dapat mengatasi masalah penambahan kapasitas layanan data yang menggunakan band frekuensi dan perluasan cakupan area BTS yang terjadi akibat terhalang gedung-gedung tinggi dan bangunan. BTS Hotel ini tidak memerlukan lahan yang luas, hanya diperlukan tiang-tiang penyangga untuk antena BTS Hotel. BTS Hotel mampu digunakan untuk teknologi GSM, UMTS, dan LTE baik untuk single operator maupun multioperator. Jaringan BTS Hotel cocok untuk digunakan pada kondisi outdoor yaitu jalan raya, jalan tol, terowongan bawah tanah dan lainnya. Untuk melakukan perencanaan akan dilakukan analisis penentuan penempatan BTS Hotel, penentuan penempatan eNode B, coverage planning, dan capacity planning. Hal ini dilakukan untuk mengestimasi jumlah pole yang dibutuhkan untuk pelanggan pada area tersebut. II. TEORI PENUNJANG A. BTS Hotel Dalam konfigurasi jaringan seluler konvesional akan menggunakan Base Transceiver System (BTS) yang memiliki ketinggian sekitar 30 m dan memiliki lahan yang cukup luas untuk penempatannya. Di masa sekarang teknologi ini semakin sulit diimplementasikan karena lahan yang semakin sedikit dan permasalahan regulasi dari pemerintah setempat. Terlebih di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sulit sekali untuk mendapatkan lahan untuk BTS konvensional. Dalam prakteknya BTS