Jurnal Kesehatan Volume 9, Nomor 1, April 2018 ISSN 2086-7751 (Print), ISSN 2548-5695 (Online) http://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK 93 Aktivitas Daya Hambat Limbah Daging Buah Kopi Robusta ( Coffea robusta L.) Aceh terhadap Bakteri S.aureus dan E.coli Muhammad Ridwan Harahap Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia Email: ridwankimia@ar-raniry.ac.id Abstract: Inhibitory Activity of S. aureus and E. coli bacteria of a waste of Aceh’s Robusta fruit flesh. Coffee fruit flesh is a waste that coffee farmers use as animal feed only, even though has a composition such as carbohydrates, proteins, fiber, minerals, water, protein, caffeine, and polyphenols. These compositions are very useful for cosmetic and pharmaceutical industries. This study was a research on the use of waste of Aceh’s Robusta frui t flesh (Coffea robusta) on the ability to inhibit the bacteria S-aureus and E.coli as the basic ingredients of the cosmetic face mask of halal products. The samples used were from Takengon city. The skin of the coffee beans was peeled, cleaned and extracted with methanol for about 3 x 24 hours. Further concentrated until obtained extract concentrated. The resulting extracts were tested phytochemically. Variations of extracts concentration on water solvents were 1%, 2%, and 3%. The antibacterial activity was tested by the diffusion method which used the disc. The result showed inhibitory zone to E.coli bacteria at 1%, 2%, 3% concentration were 6,5 mm, 7.2 mm and 7.8 mm respectively. While in S.aureus at a concentration of 1%, 2%, 3% were 15.1 mm, 15.3 mm and 15.5 mm respectively. The best variation of the concentration of Robusta coffee fruit flesh extract (Coffea robusta) in this study on the growth of S-aureus and E.coli bacteria was 3%. Keywords: Antibacterial, E.coli, fruit flesh of coffee, S. aureus Abstrak: Aktivitas Daya Hambat Limbah Daging Buah Kopi Robusta ( Coffea robusta L.) Aceh terhadap Bakteri S.aureus dan E.coli. Daging buah kopi merupakan limbah yang dimanfaatkan petani kopi hanya sebagai pakan ternak saja. Padahal memiliki komposisi seperti karbohidrat, protein, fiber, mineral, air, protein, kafein dan polifenol. Komposisi tersebut sangat berguna untuk industri kosmetik dan farmasi. Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah daging buah kopi robusta (coffea robusta) Aceh terhadap kemampuan menghambat bakteri S-aureus dan E.coli sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik masker wajah produk halal. Sampel yang digunakan berasal dari kota Takengon. Limbah kulit biji kopi dikupas dan dibersihkan lalu diekstraksi dengan metanol selama lebih kurang 3x24 Jam. Selanjutnya dipekatkan sampai diperoleh ekstrak pekat. Ekstrak yang dihasilkan diuji secara fitokimia kemudian variasi konsentrasi terhadap pelarut air yaitu 1%, 2% dan 3%. Untuk aktivitas antibakteri dari ekstrak yang sudah diperoleh akan diuji dengan metode difusi agar menggunakan cakram. Hasil yang diperoleh menunjukkan terhadap bakteri E.coli pada konsentrasi 1% sebesar 6,5 mm; 2% sebesar 7,2 mm dan 3% sebesar 7,8 mm. Sedangkan terhadap bakteri S.aureus pada konsentrasi 1% sebesar 15,1 mm; 2% sebesar 15,3 mm dan 3% sebesar 15,5 mm. Variasi terbaik dari konsentrasi pada ekstrak daging buah kopi Robusta (coffea robusta) pada penelitian ini terhadap pertumbuhan bakteri S-aureus dan E.coli adalah dengan konsentrasi 3 %. Kata kunci: Anti bakteri, Daging buah kopi, E.coli, S.aureus Provinsi Aceh merupakan provinsi yang terletak pada bagian barat Indonesia. Komoditas dari provinsi Aceh salah satunya adalah penghasil kopi. Kopi yang terkenal dari Aceh adalah jenis Robusta (coffea robusta) dan Arabika (coffea arabic). Hal ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat Aceh yang gemar minum kopi baik di pagi hari maupun malam hari, sehingga produksi tumbuhan kopi terus meningkat di provinsi Aceh. Budi daya tanaman kopi merupakan komoditas lokal masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi. Sesuai data Dinas Pertanian Aceh Tengah tahun 2016 tentang produksi kopi di Aceh mengalami peningkatan rata-rata sebesar 31.375 ton sedangkan tahun tahun sebelum nya hanya berkisar 27.777 ton pertahun. Tidak diperlukan teknik khusus untuk membudidayakan tumbuhan ini(Suwarto & Octavianty, 2010). Hanya saja yang perlu