Jurnal Energi dan Manufaktur Vol. 13 No. 1, April 2020 (1-7) http://ojs.unud.ac.id/index.php/jem ISSN: 2302-5255 (p) ISSN: 2541-5328 (e) *Tel./Fax.: (021) 757 91385 E-mail: ari.kabul@bppt.go.id Kajian Peningkatan Efisiensi Energi di Industri Pulp dan Kertas Ari Kabul Paminto 1,* , Rudy Surya Sitorus 1 , Rizki Firmansyah 1 , Nurus Sahari Laili 1 1 Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi (PPIPE), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Naskah diterima 01/10/2019; direvisi 01/04/2020; disetujui 15/04/2020 doi: https://doi.org/10.24843/JEM.2020.v13.i01.p01 Abstrak Pertumbuhan industri pulp dan kertas diproyeksi akan mengalami perkembangan yang signifikan. Menurut asosiasi industri, pertumbuhan itu antara lain karena terdorong oleh peningkatan permintaan dan produksi seiring dengan beroperasinya beberapa pabrik baru. Industri pulp dan kertas memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) mencapai 101,76 triliun rupiah (harga berlaku). Sumber energi utama industri ini meliputi energi panas dalam bentuk steam dan energi listrik. Dari keseluruhan proses, penggunaan energi panas mencapai 70-80% dari total energi yang dikonsumsi, dimana sebagian besar energi digunakan di proses pulping dan pengeringan. Steam dapat dibangkitkan dari black liquor dan bahan bakar lainnya seperti batubara, minyak, gas dan biomassa. Kebutuhan energi industri pulp dan kertas akan meningkat rata-rata 2,49% per tahun dari 108,5 juta SBM pada tahun 2018 menjadi 135,4 juta SBM pada tahun 2027, sehingga termasuk industri dengan konsumsi energi yang cukup besar. Sehingga perlu adanya inovasi penggunaan teknologi dengan efisiensi tinggi sehingga mengurangi penggunaan energi. Sampai saat ini lindi hitam (black liquor) dari pabrik pulp dan kertas di Indonesia pada umumnya belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan bakar boiler. Upaya pemanfaatan black liquor dan penerapan teknologi yang efisien di industri pulp dan kertas mampu membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mengurangi emisi dari bahan bakar fosil. Dengan skenario efisiensi energi, kebutuhan energi industri pulp dan kertas akan menurun sebesar 12,5% pada tahun 2027. Potensi penghematan energi industri pulp dan kertas mulai tahun 2023 sebanyak 8,4 juta SBM dan menjadi 16,9 juta SBM pada tahun 2027. Besar peluang penghematan dan reduksi emisi bervariasi dan bergantung pada berbagai faktor, antara lain tingkat efisiensi proses dan teknologi yang telah diimplementasikan di industri tersebut. Kata kunci: Efisiensi energi, intensitas energi, black liquor, pulp dan kertas Abstract Growth in the pulp and paper industry is projected to experience significant development. According to industry associations, the growth was partly driven by increased demand and production in line with the operation of several new factories. The pulp and paper industry has made a significant contribution to GDP (Gross Domestic Product) reaching 101.76 trillion rupiah (current prices). The industry's main energy sources include heat energy in the form of steam and electricity. From the whole process, the use of heat energy reaches 70-80% of the total energy consumed, where most of the energy is used in the pulping and drying process. Steam can be generated from black liquor and other fuels such as coal, oil, gas and biomass. The energy needs of the pulp and paper industry will increase by an average of 2.49% per year from 108.5 million BOE in 2018 to 135.4 million BOE in 2027, making it one of the industries with considerable energy consumption. So, it is necessary to innovate the use of technology with high efficiency thereby reducing energy used. Until now, black liquor from the pulp and paper factory in Indonesia in general has not been used optimally as boiler fuel. Efforts to use black liquor and the efficient application of technology in the pulp and paper industry can help reduce dependence on fossil fuels and reduce emissions from fossil fuels. Under the energy efficiency scenario, the energy needs of the pulp and paper industry will decrease by 12.5% by 2027. The potential energy savings of the pulp and paper industry starting in 2023 are 8.4 million SBM and to 16.9 million SBM in 2027. Large the opportunity for saving and reducing emissions varies and depends on various factors, including the level of process efficiency and technology that has been implemented in the industry. Keywords: Energy efficiency, energy intensity, black liquor, pulp and paper 1. Pendahuluan Pertumbuhan industri pulp dan kertas diproyeksi akan mengalami perkembangan yang signifikan. Menurut asosiasi industri, pertumbuhan itu antara lain karena terdorong oleh peningkatan permintaan dan peningkatan produksi seiring dengan beroperasinya beberapa pabrik baru. Industri pulp dan kertas bisa tumbuh optimal jika pemerintah serius mendorong ekspor dan mendukung industri dalam negeri. Sebab, saat ini industri pulp dan kertas dinilai kurang efisien karena masih menggunakan bahan baku pulp dan waste paper impor bersertifikat SVLK, sehingga mengakibatkan biaya produksi tinggi. Industri pulp dan kertas memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap penyediaan lapangan kerja serta PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Pada tahun 2018 kontribusi industri pulp dan kertas terhadap PDB nasional mencapai 101,76 triliun Rupiah (harga berlaku) atau sekitar 0,69% dari total PDB nasional [1]. Nilai tambah industri pulp dan kertas tersebut sedikit mengalami peningkatan jika dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 5,14 triliun Rupiah. Dengan pertumbuhan PDB industri pulp dan kertas maka kebutuhan energi di industri tersebut diperkirakan semakin meningkat. Industri pulp dan kertas termasuk industri dengan konsumsi energi yang cukup besar. Kebutuhan energi sektor industri sendiri merupakan konsumen energi final terbesar kedua di Indonesia saat ini setelah sektor transportasi [2]. Industri pulp dan kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif bila dibandingkan dengan negara lain. Keunggulan