TK - 025 I SSN : 2407 – 1846 e-ISSN : 2460 – 8416 Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2015 Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 17 November 2015 1 Website : jurnal.ftumj.ac.id/index.php/semnastek PENGARUH KONSENTRASI AKTIVATOR NAOH PADA PROSES PEMBUATAN ARANG AKTIF TERHADAP KUALITAS MINYAK BEKAS SETELAH PROSES PEMURNIAN Yustinah 1* , Hartini 2 , dan Zuliani 3 Jurusan Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Jakarta Jln Cempaka Putih Tengah 27 * Yus_tin@yahoo.com ABSTRAK Pengolahan limbah pertanian menjadi bioadsorben arang aktif, merupakan salah satu usaha pemanfaatan limbah pertanian. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh konsentrasi NaOH, sebagai aktivator dalam proses pembuatan arang aktif, terhadap kualitas minyak goreng bekas setelah pemurnian. Limbah pertanian yang sudah bersih dan kering kemudian dilakukan karbonisasi di dalam furnace selama 15 menit dengan suhu pembakaran 400 o C. Selanjutnya arang diaktivasi dengan merendam dalam larutan NaOH selama dua belas jam. Konsentrasi NaOH yang digunakan bervariasi, yaitu 0,125; 0,25; 0,5; 1 dan 2 N. Setelah itu padatan dicuci sampai netral dan dikeringkan, sehingga diperoleh bioadsorben arang aktif. Minyak jelantah yang sudah dipanasi dicampur dengan bioadsorben. Campuran tersebut diaduk selama satu jam pada temperatur 110 o C. Selanjutnya campuran disaring dengan pompa vakum diambil filtratnya yaitu minyak jelantah bersih. Minyak bekas yang sudah bersih, dianalisa kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida dan warna minyak. Minyak bekas setelah proses pemurnian mempunyai kadar asam lemak bebas 0,25% ; Bilangan peroksida 6.4027 meq/kg dan warna minyak 30 red lovibond. Hasil optimum diperoleh menggunakan arang aktif dengan konsentrasi NaOH 1 N. Setelah proses pemurnian, kadar asam lemak bebas menurun 55.0 % ; bilangan peroksida menurun 44.7 % dibandingkan kondisi mula-mula. Kata kunci: minyak bekas, adsorbsi, arang aktif ABSTRACT Processing agricultural waste into carbon, is one of the utilization of agricultural waste. This research aims to study the effect of the concentration of NaOH, as activators in the process of making charcoal, to the quality of used frying oils after purification. Agricultural waste which is clean and dry then performed carbonization in a furnace for 15 minutes at a temperature of 400 C combustion. Furthermore charcoal activated by soaking in NaOH solution for twelve hours. Concentration of NaOH used varies :0.125; 0.25; 0.5; 1 and 2 N. Afterward, the solids are washed until neutral and dried, to obtain bioadsorben activated carbon. Pre-heated cooking oil mixed with bioadsorben. The mixture was stirred for one hour at a temperature of 110 C. Furthermore, the mixture was filtered with vacuum pumps used cooking oil taken the filtrate is clean. The used oil is clean, analyzed levels of free fatty acids, peroxide value and color of the oil. Used oil after the purification process has the free fatty acid content of 0.25%; 6.4027 meq peroxide / kg and 30 red oil Lovibond color. The optimum results obtained using activated carbon at a concentration of NaOH 1 N. After the purification process, free fatty acid levels decreased 55.0%; peroxide value decreased 44.7% compared to initial conditions. Keywords : used cooking oil, adsorbtion, activated carbon PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris, banyak menghasilkan produk pertanian dan perkebunan beserta dengan limbahnya. Limbah pertanian dan perkebunan tersedia berlimpah sepanjang tahun, setiap tahun terdapat kurang lebih 160 miliar ton limbah dari areal pertanian dan 80 miliar ton limbah dari areal perhutanan. Pada umumnya limbah tersebut mempunyai kandungan protein yang rendah, tetapi kandungan seratnya tinggi. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Prosiding Semnastek