Jurnal Keperawatan, Volume XIV, No. 1, April 2018 ISSN 1907 - 0357 [1] PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI PEPPERMINT INHALASI TERHADAP MUAL MUNTAH PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN ANESTESI UMUM Tori Rihiantoro*, Candra Oktavia*, Giri Udani* *Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang E-mail: toririhiantoro@gmail.com Penggunaan anestesi umum dapat menyebabkan pasien mengalami mual, muntah (sering dikenal dengan istilah PONV). Insidensi PONV mencapai 30% dari 100 juta lebih pasien bedah di seluruh dunia. Di Indonesia insiden terjadinya PONV belum tercatat jelas. Penanganan PONV dapat menggunakan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmalkologi yaitu pemberian aromaterapi peppermint secara inhalasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi peppermint inhalasi terhadap mual muntah pada pasien post operasi dengan anestesi umum. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan Non Equivalent Control Group. Populasi pada penelitian ini adalah pasien post operasi dengan anestesi umum dengan jumlah sampel 20 orang. Hasil penelitian menyimpulkan ada perbedaan skor rata-rata PONV sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi peppermint inhalasi pada kelompok eksperimen yaitu 11.10 (p value=0.005), ada perbedaan skor rata-rata PONV pada pengukuran pertama dan pengukuran kedua pada kelompok control yaitu 2.20 (p value=0.006), selanjutnya juga ada perbedaan selisih skor rata-rata PONV pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol yaitu 10.00 (p value+0.000). Hasil ini menunjukkan bahwa aromaterapi peppermint memberikan pengaruh dalam menurunkan skor rata-rata PONV pada pasien post operasi dengan anastesi umum. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan untuk penerapan terapi aromatik peppermint pada pasien post operasi yang mengalami keluhan mual muntah. Kata kunci: Anestesi Umum, PONV (Mual Muntah Post Operasi), Aromaterapi Peppermint LATAR BELAKANG Tindakan pembedahan sebagai salah salah satu alternatif terapi pada pasien yang mengalami gangguan kesehatan terus meningkat insidensinya dari tahun ketahun. World Health organization (WHO) dalam penelitian Hartoyo (2015) menyatakan bahwa jumlah pasien yang dilakukan pembedahan tiap tahun mengalami peningkatan. Jumlah pasien dengan tindakan pembedahan mencapai 140 juta jiwa di seluruh rumah sakit dunia pada tahun 2011 dan meningkat menjadi 148 juta jiwa pada tahun 2012. Sementara di Indonesia, jumlah pasien yang dilakukan pembedahan mencapai 1,2 juta jiwa pada tahun 2012. Sebagian besar tindakan pembedahan yang dilakukan pada pasien menggunakan anastesi umum. Anestesi umum pada pembedahan dapat menyebabkan permasalahan antara lain mual, muntah, batuk kering, nyeri tenggorokan, pusing, nyeri kepala, nyeri punggung, gatal-gatal, lebam di area injeksi serta hilang ingatan sementara (Allen, 2004; Conway, 2009; Hewitt & Watts, 2009 dalam Supatmi & Agustiningsih, 2015). Pasien-pasien dianestesi umum mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk mengalami mual dan muntah dibandingkan dengan pasien yang menggunakan jenis anestesi lain (Islam & Jain, 2004 dalam Indrawati, 2010). Mual muntah post operasi dikenal dengan istilah Post Operative Nausea And Vomiting (PONV). Menurut GAN, T.J (2006) dalam Silaban (2015) PONV adalah komplikasi yang sering terjadi pada anestesi umum dalam 24 jam pertama setelah operasi. Insidensi PONV mencapai 30% dari 100 juta lebih pasien bedah di seluruh dunia (Sholihah, Marwan & Husairi, 2015). Setiap tahun sebanyak 71 juta pasien bedah umum di Amerika Serikat mengalami insiden PONV sebanyak 20 30% dan sekitar 7080% pada kelompok PENELITIAN