Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8 (1) Januari 2021 DOI: 10.33603/dj.v8i1.4391 (p-ISSN 2355-6633, e-ISSN 2548-5490) Ernanda, Dwi Rahariyoso, Julisah Izar: Disparitas Gender Dalam Penggunaan Istilah Pada Kosakata Budaya Masyarakat Melayujambi Di Provinsi Jambi 1 Disparitas Gender dalam Penggunaan Istilah pada Kosakata Budaya Masyarakat Melayujambi di Provinsi Jambi Ernanda 1)* , Dwi Rahariyoso 2) , Julisah Izar 3) ernanda@unja.ac.id 1) , jeketlusuh@gmail.com 2) , julisahizar@unja.ac.id 3) Universitas Jambi, Jambi, Indonesia Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi linguistik dan penggunaan istilah yang memuat disparitas gender yang telah menyatu dengan sistem kognitif, budaya, dan menjadi kebiasaan yang diekspresikan di dalam masyarakat. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan wawancara dan pengamatan. Metode wawancara digunakan untuk meninjau kembali apakah data bahasa yang berupa kosakata budaya berupa istilah dalam masyarakat MelayuJambi yang dirujuk pada Kamus MelayuJambi benar adanya. Sedangkan, metode pengamatan digunakan untuk melihat apakah istilah pada kosakata budaya tersebut masih berfungsi dan digunakan dalam tindak komunikasi serta dalam aktivitas budaya di tengah masyarakat MelayuJambi. Adapun hasil dalam penelitian ini menunjukkan adanya 20 istilah dalam kamus Kamus MelayuJambi yang mengandung disparitas gender yang benar adanya dan kosakata dengan jenis-jenis istilah tersebut masih populer dan masih digunakan di kalangan masyarakat Jambi. Kata kunci: disparitas gender, penggunaan istilah, Masyarakat MelayuJambi. Pendahuluan Kebudayaan merupakan manifestasi sosiologis dalam masyarakat. Dimensi kebudayaan menghasilkan suatu tatanan yang diyakini sekaligus disepakati oleh anggota masyarakatnya. Seiring dengan kurun waktu dan perubahan zaman, kebudayaan pun terus mengalami negosiasi dan penyesuaian. Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan dengan lebih dari 700 suku bangsa, secara nasional memiliki beragam latar belakang serta corak kebudayaan. Setiap etnis dan suku bangsa memiliki karakteristiknya masing-masing, melalui hasil kebudayaan, seperti, pengetahuan, artefak, keyakinan, seni, sistem sosial, teknologi, hingga bahasa. Keunikan ini tersebar dari wilayah Aceh hingga Papua. Dalam perkembangan kebudayaan nusantara dan nasional, Indonesia dikenal masyarakat yang berbasis patriarkat sebagai ciri fundamentalnya. Patriarkat dalam hal ini secara sederhana bisa diterjemahkan sebagai suatu model kebudayaan yang cenderung mengacu pada posisi kaum laki-laki yang menjadi pusat (dominan). ‘Pusat’ dalam artian, persepsi atau ukuran dalam menentukan kadar konstruksional kebudayaan atau pranata sistem sosial dengan pandangan kaum laki-laki. Sistem patriarkat juga menjadi karakteristik dalam kebudayaan Melayu. Masyarakat Melayudalam perkembangan kebudayaannya mengalami transformasi seiring dengan masuknya agama-agama, mulai dari era Hindu hingga Islam. Sejarah mencatat bahwa wilayah Jambi, terutama di sekitar Sungai Batanghari, diakui sebagai pusat kerajaan pre-Islamic Melayu(Gin, 2004). Dalam kenyataan tersebut, sistem kebudayaan yang ada di Provinsi Jambi secara umum memiliki karakteristik patriarkat.