Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya, Vol. 14, No. 2, 2019. 51 Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya, Vol. 14, No. 2, 2019. E-ISSN: 262 - 7273 ISSN: 0126 - 351X KEKERASAN DAN KRIMINALITAS DI PERKOTAAN: ANOMALI KOTA MAKASSAR MODERN PADA ABAD KE-20 Ilham Departemen Sejarah, Universitas Hasanuddin Abstract Throughout the 20th century, Makassar city continued to practice the ideas of modernity both in its physical development of the city and in its social and cultural life. In this context, urban prob- lems developed both environmentally and socially. Some prominent aspects were violence and crime which grew more complex over time. Violence appeared in discriminatory attitudes in the space management and use. If in the colonial period, discriminatory attitudes were based on na- tionality and skin color, in the independence era, discriminatory attitudes most felt by residents who did not have access to the power. Modernization of the city seems to overlook comprehensive and sustainable improvement of urban kampungs. In the long-term environmental damages such as floods, fires, and infectious diseases occurred. Weak enforcement to control the practice of prostitu- tion and gambling also caused violence and criminal acts. Other forms of crime such as theft, fighting, murder, robbery, inter-kampung war or juvenile delinquency occurred in all parts of the city, both during the day and at night. Various forms of violence and crime are anomalies of the ideals of a modern city. In certain conditions, violence and crime created as an accumulation of "disappointment" of the moderniza- tion project. This condition created alienation or displacement of individuals in the culture of mod- ern (city). It occurred because there was widespread “inequality” in various forms, such as injus- tice, helplessness or inability to face (transformation in) the new age. These modern Makassar city anomalies are like irony experienced in urban spaces, villages, and people's lives. Keywords: Anomalies, Crime, Modern Makassar City, Violence, 20th Century “ Author correspondence Email: ilhamdaengmakkelo@gmail.com Available online at http://journal.unhas.ac.id/index.php/jlb 51 - 71 Abstrak Sepanjang abad ke-20, Kota Makassar terus menerus mempraktikkan ide-ide modernitas baik da- lam pembangunan fisik kota maupun dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Dalam konteks itu, berkembang permasalahan perkotaan, baik lingkungan maupun sosial. Salah satu aspek yang menonjol adalah kekerasan dan kriminalitas yang semakin kompleks dari waktu ke waktu. Kekerasan tampak dalam sikap diskriminatif dalam pengaturan dan penggunaan ruang, jika di masa kolonial sikap itu didasarkan atas kebangsaan dan warna kulit, di masa kemerdekaan dirasakan oleh penduduk yang tidak memiliki akses pada kekuasaan. Modernisasi kota menga- baikan perbaikan menyeluruh dan berkelanjutan pada perkampungan, sehingga dalam jangka pan- jang mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti banjir, kebakaran, dan penyakit menular. Pem- biaran dan kontrol yang lemah atas praktik prostitusi dan perjudian juga menciptakan ruang-ruang kekerasan dan tindakan kriminalitas. Berbagai bentuk kriminalitas berupa pencurian, perkelahian, pembunuhan, perampokan, tawuran, perang antar kampung, atau kenakalan remaja, terjadi di seluruh bagian kota, baik siang maupun malam hari. Berbagai bentuk kekerasan dan kriminalitas ditempatkan sebagai anomali cita-cita kota modern. Dalam kondisi tertentu, kekerasan dan kriminalitas tercipta sebagai akumulasi “kekecewaan” atas proses modernisasi yang melahirkan keterasingan atau tergusurnya individu dalam budaya (kota) modern serta “ketimpangan” dalam berbagai wujud, seperti ketidakadilan, ketidakberdayaan, pengabaian, atau ketidakmampuan menghadapi (perubahan) zaman baru. Anomali Kota Makassar modern tidak ubahnya seperti ironi yang tampak pada ruang kota, per- kampungan, dan kehidupan masyarakat. Kata Kunci: Kekerasan, Kriminal, Anomali, Kota Makassar Modern, Abad Ke-20