KAJIAN SIFAT BIO-EKOLOGI DAN MOLEKULER BANANA STREAK VIRUS ISOLAT INDONESIA (BSV-IN): VIRUS BARU PADA TANAMAN PISANG DI INDONESIA Tri Asmira Damayanti 1) Gede Suastika, Nurdianto, Ummu Salamah Rustiani,, Mugiono Pisang adalah 1 komoditi hortikultura yang termasuk dalam pengembangan buah unggulan Indonesia. Produksi pisang di Indonesia secara agregat menduduki peringkat 8 besar di dunia, namun baru 2,7% dari total produksi ini bisa diekspor. Pengembangan budidaya tanaman pisang sering mendapat kendala karena serangan patogen. Banana bunchy top virus (BBTV) misalnya dapat menyebabkan tanaman kerdil dan gagal panen. Ancaman kegagalan panen menjadi semakin besar dengan terdeteksinya virus baru yaitu banana streak virus (BSV) pada survei yang dilakukan di pertanaman pisang di bogor bulan September 2002. Gejala yang ditemukan berbeda dari gejala BSV yang telah dilaporkan di belahan dunia lain. BSV isolat Indonesia bukan saja menginduksi garis nekrotik pada daun tetapi juga dapat menyebabkan kematian prematur. Hal ini mengundang dugaan bahwa BSV yang masuk ke Indonesia telah mengubah komposisi varian genetiknya agar sesuai dengan lingkungan barunya, dan/atau varietas pisang lokal Indonesia lebih rentan terhadap virus baru ini. Adalah menjadi tanggung jawab moral bagi setiap ilmuwan di bidang Virologi Tumbuhan untuk melaporkan secara ilmiah kejadian penyakit baru di wilayah Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah menyedikan informasi detail tentang keberadaan BSV di Indonesia dan Mengkarakterisasi sifat bio-ekologinya. Melalui metode PCR dengan menggunakan pasangan primer spesifik Badnavirus, telah berhasil diamplifikasi DNA berukuran sekitar 644 bp dari sampel tanaman pisang yang menunjukkan gejala bercak garis. Produk PCR ini juga telah berhasil dirunut urutan nikleotidanya dengan menggunakan Direct DNA Sequence Kit (Takhara Inc., Japan) dengan DNA Sequencer (ABI, Australia). Analisa homologi dengan data sikuen BSV isolat lain di the EMBL/GenBank/DDBJ database, menunjukkan bahwa sikuen yang diperoleh bersesuaian dengan sikuen BSV isolat Onne (accession number AJ002234; Harver & Hull, 1998) nukleotida nomor 4673 sampai 5317 dengan tingkat identitas 100%. Dengan demikian, hasil ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa isolat virus yang menyebabkan penyakit bercak garis pisang di Indonesia adalah BSV. Untuk mengetahui cara penyebaran BSV di lapangan, kutu putih yang sering ditemukan mengkoloni tanaman pisang di lapangan diuji kemampuannya untuk menularkan BSV dari tanaman pisang sakit ke bibit pisang sehat. Menggunakan prosedur baku dan berpatokan pada kunci identifikasi William dan Watson (1988) dapat diketahui bahwa kutu putih yang digunakan dalam penelitian ini adalah Planococcus citri Risso (Homoptera: Pseudococcidae). Pada hari ke 30, semua tanaman yang diinokulasi telah memperlihatkan gejala khas penyakit bercak garis, baik yang diinokulasi dengan satu, tiga, lima, tujuh, 1) Staf Pengajar Dep. Hama dan Penyakit Tumbuhan, FAPERTA IPB