Papers seminar.uad.ac.id/index.php/quantum Seminar Nasional Quantum #25 (2018) 2477-1511 (7pp) Prosiding Seminar Nasional Quantum 517 © 2018 Pend. Fisika UAD Profil analisis kebutuhan pengembangan instrumen kognitif literasi sains untuk siswa SMA Linda Novitasari, dan Jeffry Handhika Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas PGRI Madiun E-mail: vitalinda9@gmail.com Abstrak. Memasuki abad 21 siswa dituntut memiliki kemampuan literasi dasar yang baik. Salah satu komponen literasi dasar adalah literasi sains. Kemampuan literasi sains dapat diketahui melalui proses asesmen. Akurasi kualitas literasi sains siswa sangat ditentukan oleh proses asesmen. Untuk itu, asesmen harus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, pembaharuan asesmen sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk memprofilkan hasil analisis kebutuhan pengembangan instrumen kognitif literasi sains di SMA. Metode dan pendekatan yang digunakanadalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui survei lapangan dan studi kepustakaan. Teknik analisis data menggunakan triangulasi dengan proses analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen literasi sains telah dilakukan berbagai pihak, mulai dari skala kecil hingga skala internasional. Secara umum pengembangan instrumen kognitif literasi sains di SMA khususnya yang berorientasi di bidang fisika masing memerlukan pengembangan lebih lanjut. Dapat disimpulkan bahwa perlu adanya pengembangan instrumen kognitif literasi sains untuk siswa SMA. 1. Pendahuluan Literasi merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan pada abad 21 [1]. Sejak beberapa dekade hingga menjelang abad 21 ini literasi cukup menjadi perhatian publik. Salah satu bentuk perhatian pemerintah ditunjukkan melalui gerakan literasi nasional (GLN) dengan sasaran pengembangan literasi dasar. Terdapat enam komponen literasi dasar yang dikembangkan melalui gerakan literasi nasional, di antaranya literasi baca tulis, literasi keuangan (finansial), literasi sains, literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), literasi budaya, dan literasi kewarganegaraan [2]. Dari keenam komponen tersebut, literasi sains merupakan salah satu komponen yang menjadi sorotan internasional.Terdapat anggapan bahwa literasi sains merupakan hasil belajar kunci dari pendidikan [3]. Bahkan sejak tahun 2000 Organization for Economic Cooperation and Development atau yang lebih dikenal OECD melakukan survei internasional yang disebut PISA, yakni Programme for International Student Assessment. Survei tersebut dilakukan secara berkala setiap tiga tahun sekali untuk mengukur literasi sains siswa. Pentingnya mengukur literasi sains tidak lain untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman akan pengetahuan dan aspek proses sains serta kemampuannya mengaplikasikan dalam kehidupan [4]. Menurut PISA,literasi sains merupakan kemampuan untuk terlibat dengan isu-isu sains dan gagasan sains sebagai warga negara yang reflektif [5]. Sejalan dengan definisi PISA, Zainab, Wari, & Miriam menyebutkan definisi literasi sains mencakupkemampuan menjelaskan fenomena secara ilmiah, melakukan evaluasi dan merancang suatu penyelidikan secara