Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIII No.1 April 2016 81 MODEL PENGEMBANGAN PROFESIGURU MELALUI PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITY DI SEKOLAH MENENGAH Oleh : Johar Permana permanajohar@yahoo.com Asep Sudarsyah ABTRAKS Tujuan studi ini adalah mengembangkan model PLC dengan cara menemu kenali tipologi pengembangan profesi ditinjau dari kepemimpinan, iklim dan sistempendukung organisasi. Pengalaman belajar masa lampau baik yang diperoleh dalam pre-service training maupun in-service training menyebabkan guru tumbuh dan berkembang dalam profesi. Tetapi pengalaman belajar tersebut sering bersifat one short training dan terlepas dari kebutuhannya sehingga kinerja dikelas cenderung tidak berubah, business asusual. Keadaan ini mengarah pada upaya untuk menemukenali tipologi pengembangan profesi guru disekolah dan mengarahkan pada pertanyaan penelitian“ bagaimana pengembangan profesi guru melalui Professional Learning Community (PLC) dikembangkan di sekolah menengah pertama ”. Urgeni penelitian ini memberikan arah kebijakan dalam pengembangan profesi guru berbasis PLC untuk memastikan keberlansungan dan keberlanjutan pengembangan profesi guru ditataran sekolah serta memperbaiki kelemahan pengembangan profesi yang bersifat “topdown” dan ”one sixe fits all”. Prosedur penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan survey terbatas melalui kuesioner, wawancara dan diskusi terfokus. Hasil penelitian menunjukkan perlu ada peralihan model in-service training yang diselenggarakan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota ke arah pengembangan profesi berbasis sekolah dengan mengembangkan yaitu (1) pengembangan komunitas belajar, dan (2) pengembangan kemampuan guru dalam pembelajaran berbasis pengalaman (refleksi). Kata Kunci: Professional Learning Community, pengembangan profesi guru,Kepemimpinan, Iklim, Sistem Pendukung PENDAHULUAN Professional Learning Community (PLC) merupakan proses akuisisi pengetahuan yang dilaksanakan melalui proses inquiry secara kolaboratif dalam memecahkan masalah yang bersumber dari pekerjaannya yang indikasinya dapat ditelusuri dari kebutuhan belajar guru yang bersumber kepentingan proses belajar mengajar, pengalaman belajar guru dilaksanakan secara kolaboratif, dan hasilnya tampak dalam kapasitas guru dalam pekerjaannya. Permasalahan kritikal dalam pengembangam PLC adalah memastikan PLC dilaksanakan secara berkelanjutan. Dari berbagai hasil penelitian dikemukakan bahwa faktor penting dalam mengembangkan PLC adalah orientasi perilaku kepemimpinan, iklim dan sistem pendukung organisasi. Studi Cow, Alice, (2013, halm. 242) menyimpulkan bahwa orientasi kepemimpinan kategori heterarchy lebih luwes dalam mendistribusikan tugas-tugas, sebaliknya kategori hierarchy bersifat kaku karena dibatasi oleh kekuasaan struktural. Sedangkan dalam hasil penelitian Caldwell, Raymond (2012, hlm. 39-55) PLC dipandang sebagai “a form of ‘distributed leadership’. Terkait dengan iklim sebagai konsteks PLC (Andy Hargreaves et.all., 2010) terdiri dari friendly culture, supported strucuture, respecful, dan trusthing relationships merupakan sistem budaya yang mendukung keberlanjutan PLC, disamping dukungan organisasional seperti waku, tempat dan sumber daya [Hord, Shirley, 2009, hlm. 30) . Berdasarkan permasalahan tersebut PLC merupakan suatu budaya sekolah hanya akan tumbuh apabila ada faktor-faktor kunci yang