MIMESIS VOL. 3. No. 1, Januari 2022 VOL. 3. No. 1, Januari 2022 hlm. 35-47 35 WANITA (NYAIE) DALAM NOVEL BUNGA ROOS DARI CIKEMBANG KARYA KWEE TEK HOAY Nur Alifah Septiani Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta nur.alifah@idlitera.uad.ac.id Dedi Pramono Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta dedi.pramono@idlitera.uad.ac.id ARTICLE INFO ABSTRACT Article history Received 10 January 2022 Revised 27 January 2022 Accepted 29 January 2022 Over 90 years (1870-1960), 800 authors published 3000 Chinese Malay erudite workshops. Bunga Roos from Cikembang is one of the most well-known workshops. The work was written by Kwee Tek Hoay, one of the most prolific authors of his day. Bunga Roos from Cikembang, similar to the previous Chinese Malay literary work, casts an indigenous womanish figure as a Chinese man's "nyaie." The distinction in this tale is that the "nyaie" is elevated to a higher status. She is no longer referred to as a "mistress" (a libido grater), but rather as a lady by her master, even though she has never been married. This distinction is noteworthy and warrants additional investigation. The goal of this research is to locate honorable examples for the female character who becomes the "nyaie" in a detail in this sense, the study theory employed a gender theory, specifically Richard A. Lippa's notions of nature and nurture. This research is the outcome of a library search. The data analysis was done in a descriptive-qualitative manner. Marsiti, like a lady"nyaie" (concubine) of a high-class Chinese, was lauded not only as a woman who satisfies her master's lust because of her beauty, sexiness, and service (nature) but also as a woman in a good social arrangement (nurture). Marsiti is seen as a "partner" who can be relied upon to help the master think through the various challenges that arise in his life as a result of his wimpiness, intelligence, and fidelity. In this case, the location of the woman "nyaie" in Kwee Tek Hoay's Cikembang Bunga Roos appears to be superior to the previous work. This is an open access article under the CC–BY-SA license. Keywords Conception of Woman Concubine Bunga Roos dari Cikembang INFO ARTIKEL ABSTRAK Article history Received 10 Januari 2022 Revised 27 Januari 2022 Accepted 29 Januari 2022 Dalam kurun waktu sekitar 90 tahun (1870 – 1960) telah terbit karya sastra Melayu Tionghoa sejumlah 3000-an judul dari 800-an penulis. Salah satu karya yang terkenal adalah Bunga Roos dari Cikembang. Novel tersebut ditulis oleh salah seorang pengarang produktif pada zamannya, bernama Kwee Tek Hoay. Hampir sama dengan karya sastra Melayu Tionghoa yang lahir sebelumnya, Bunga Roos dari Cikembang, menempatkan tokoh wanita pribumi sebagai “nyaie” dari seorang laki-laki tionghoa. Perbedaannya pada novel ini sang “nyaie” ditempatkan dalam posisi yang lebih terhormat, dia tidak lagi ditempatkan sebagai “gundik” (pemuas libido) tetapi telah diakui sebagai istri oleh tuannya, walau tanpa pernikahan resmi. Perbedaan ini cukup menarik untuk ditelaah lebih jauh. Adapun tujuan kajian ini adalah menemukan model-model kehormatan tokoh wanita yang menjadi ‘nyai” tersebut secara rinci. Dalam kaitan ini teori kajian yang dipakai menggunakan teori gender, terutama konsep nature dan nurture dari Richard A. Lippa. Kajian ini merupakan hasil penelitian pustaka. Kajian data dilakukan secara deskriptif-kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Marsiti sebagai wanita “nyaie” (gundik) dari seorang Tionghoa berkelas atas tidak hanya ditempatkan sebagai wanita pemuas nafsu biologis dari tuannya karena kecantikannya, keseksiannya dan pelayanannya (secara nature) namun juga diposisikan sebagai wanita dalam konstruksi sosial (secara nurture) yang baik. Marsiti diakui sebagai “isteri” yang mampu dijadikan sebagai kawan berpikir tentang beragam problematika kehidupan tuan yang didampinginya akibat kelembuatannya, kecerdasannya dan kesetiannya. Dalam hal ini, penempatan wanita “nyaie” pada Bunga Roos dari Cikembang karya Kwee Tek Hoay terlihat lebih terhormat dari karya sebelumnya. This is an open access article under the CC–BY-SA license. Keywords Konsepsi Wanita Nyaie Bunga Roos dari Cikembang