Satwika Paramasatya 51 Indonesian Journal of International Studies (IJIS) Peran Penjaga Perdamaian Wanita dalam Proses Bina-Damai: Studi Kasus Operasi Perdamaian Monusco Satwika Paramasatya Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Diponegoro Abstract Peacekeeping Operations (PKO) is known as an instrument used by the United Nations to create peace in countries affected by conflict. Peacekeeping operations work as a mediator for the parties of the conflict and to ensure that violence no longer exists in the peace process. Once peace is achieved, peace operations are expected to remain involved in the peace building process. At first, men played a very dominant role in peacekeeping operations. Even so, women have been more involved in peace operations nowadays. It can be seen from the increasing number of female members of peacekeeping operations. This paper will discuss the role of women in contributing to the peace building process that occur in the MONUSCO operation in Congo. Congo was chosen because MONUSCO has the highest female members compared to other peacekeeping operations. The research was conducted by using explanatory method to analyze the role of women in peacekeeping operation using parameters such as the implementation of the mandate, the consistency of the implementation of Capstone Doctrine, DDR (Disarmament, demobilization, Reintegration), and CIMIC (Civil-Military Cooperation). The result indicated that women tend to have positive influences towards peace building process in peacekeeping operations judging from the fulfillment of the mandate and the implementation of programs that support the peacekeeping operation itself. Keywords: peacekeeper, peacekeeping operation, Congo, women, peace building, MONUSCO Abstrak Peacekeeping Operation (PKO), atau dikenal sebagai operasi perdamaian, merupakan suatu instrumen yang digunakan oleh PBB untuk membantu negara yang terkena konflik. Operasi perdamaian dimaksudkan sebagai langkah untuk menjadi penengah bagi pihak-pihak yang berkonflik dan memastikan aksi kekerasan tidak lagi digunakan dalam proses menuju perdamaian. Setelah perdamaian tercapai, operasi perdamaian diharapkan tetap terlibat dalam proses bina-damai sehingga konflik tidak akan terulang. Pada awalnya, peran lelaki masih sangat dominan dalam setiap operasi perdamaian. Meski begitu, kini peran wanita dalam operasi perdamaian semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah wanita yang menjadi anggota operasi perdamaian. Artikel ini bertujuan membahas sejauh mana peran wanita dalam berkontribusi terhadap proses bina-damai yang terjadi pada operasi perdamaian MONUSCO di Kongo. Penelitian dilakukan dengan metode eksplanatif dengan menjelaskan peran wanita dalam operasi perdamaian menggunakan berbagai parameter seperti tingkat keberhasilan pelaksanaan mandat, konsistensi pelaksanaan Capstone Doctrine, DDR (Disarmament, Demobilization, Reintegration), serta CIMIC (Civil-Military Cooperation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita cenderung berpengaruh secara positif terhadap proses bina-damai dalam operasi perdamaian ditinjau dari terpenuhinya mandat dan pelaksanaan program-program pendukung operasi perdamaian itu sendiri. Kata Kunci: penjaga perdamaian, operasi perdamaian, Kongo, wanita, bina-damai, MONUSCO