JURNAL TEKNIK ITS Vol. 11, No. 2, (2022) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C68 Abstrak—Meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan menimbulkan peningkatan kebutuhan akan rumah. Hal ini berakibat pada meningkatnya harga lahan sehingga tidak semua masyarakat mampu memiliki hunian yang layak terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Untuk memenuhi kebutuhan terhadap hunian layak bagi MBR dilakukan pembangunan rumah susun (rusun) baik yang bersifat milik ataupun sewa. Salah satunya adalah Rusunawa Sombo yang dibangun pada tahun 1984 sebagai salah satu bentuk penyediaan rumah layak bagi MBR. Namun, seiring berjalannya waktu Rusunawa Sombo berkembang menjadi permukiman kumuh akibat padatnya jumlah penduduk serta kondisi bangunan yang sudah termakan usia. Revitalisasi merupakan salah satu cara yang dapat dipilih untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di Rusunawa Sombo ini. Revitalisasi merupakan upaya untuk meningkatkan nilai lahan/kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Merumuskan konsep revitalisasi yang dapat mengatasi permasalahan di Rusunawa Sombo berdasarkan pada persepsi penghuni. Penelitian ini termasuk kedalam jenis mixed method dan dilakukan dengan menggunakan metode content analysis guna mengetahui kondisi dan permasalahan terkait variabel komponen kualitas hidup yang terdapat di Rusunawa Sombo, dilanjutkan dengan analisis IPA (Importance Performance Analysis) guna mengidentifikasi kinerja dan harapan terhadap hunian berdasarkan persepsi penghuni Rusunawa Sombo, dan diakhiri dengan triangulasi guna merumuskan konsep revitalisasi Rusunawa Sombo. Hasilnya, diketahui bahwa masih terdapat variabel yang kinerjanya masih belum dapat memenuhi harapan penghuni Rusunawa Sombo. Adapun variabel yang dimaksud antara lain adalah kondisi fisik bangunan, luas unit hunian, sarana keamanan, sarana pendidikan, sarana kesehatan, harga sewa, kebersihan lingkungan serta sarana pendukung lainnya seperti tempat parkir, alat pemadam kebakaran dan tempat bermain. Untuk meningkatkan kinerja variabel tersebut dirumuskan konsep revitalisasi yang berfokus pada intervensi fisik sehingga nantinya dapat memenuhi harapan dari penghuni. Kata Kunci—MBR, Persepsi Penghuni, Revitalisasi, Rumah Susun. I. PENDAHULUAN ENINGKATNYA jumlah penduduk di perkotaan menyebabkan timbulnya peningkatan kebutuhan akan rumah yang berakibat pada meningkatnya harga tanah di perkotaan. Dimana, untuk mengatasi permasalahan kebutuhan akan rumah khususnya bagi masyarakat perkotaan yang berpenghasilan rendah yaitu melalui pembangunan perumahan sederhana secara vertikal atau rumah susun (rusun) baik milik ataupun sewa oleh pemerintah [1]. Pembangunan rumah secara vertikal dipilih karena dinilai lebih minim dalam hal penggunaan lahan serta dapat meningkatkan ketersediaan ruang terbuka kota menjadi lebih luas sekaligus menjadi cara yang dapat digunakan untuk melakukan peremajaan atau revitalisasi kota di daerah yang mengalami masalah kekumuhan [2]. Rumah susun sendiri dihuni oleh golongan masyarakat menengah ke bawah yang hidup secara bersama-sama yang perlu diperhatikan perencanaannya secara utuh, antara lain dengan memperhatikan latar belakang dari penghuni akan kebutuhan tinggal di dalam lingkungan tersebut, kebutuhan dan kebiasaan fisik, sosial, ekonomi serta kebiasaan akan perilaku penghuninya. Hal ini dikarenakan perilaku atau sikap dari penghuni tersebut dapat mempengaruhi dalam penciptaan kenyamanan lingkungan pada tempat tinggal [1]. Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 2.880.284 jiwa dengan kepadatan penduduk mencapai 8.612 jiwa/km 2 . Tingginya jumlah penduduk ini juga diikuti dengan angaka kemiskinan yang mencapai 152.490 jiwa atau 5,23% dari total populasi [3]. Kondisi ini berdampak pada tingginya permintaan akan rumah yang terjangkau dan layak huni. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah antrian rumah susun di Surabaya yang mencapai 11.000 orang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan intervensi oleh Pemerintah Kota Surabaya berupa penambahan blok rumah susun sebanyak 31 blok. Dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya dijelaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya saat ini berfokus pada pembangunan perumahan dan permukiman layak huni bagi masyarakat Berpenghasilan rendah (MBR) serta melakukan pengembangan perumahan dan permukiman vertikal yang dilakukan secara terpadu dengan lingkungan sekitarnya pada kawasan perumahan dan permukiman baru, kawasan padat hunian dan pusat – pusat pelayanan kota. Konsep Revitalisasi Rusunawa Sombo Berdasarkan Persepsi Penghuni Raflie Irvanda dan Prananda Navitas Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: prananda@urplan.its.ac.id M Gambar 1. Kuadran diagram IPA.