KERAGAMAN SEMUT PADA EKOSISTEM TANAMAN KAKAO DI DESA BANJAROYA KECAMATAN KALIBAWANG YOGYAKARTA ANT DIVERSITY IN COCOA PLANTATION ECOSYSTEMS IN BANJAROYA VILLAGE, DISTRICT OF KALIBAWANG, YOGYAKARTA Moh. Ikbal 1) , Nugroho Susetya Putra 2) *, & Edhi Martono 2) 1) Universitas Muhammadiyah Palu Jln. Hang Tuah No. 29, Palu 94118 2) Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jln. Flora 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281 *Penulis untuk korespondensi. E-mail: nugrohosusetyaputra@ugm.ac.id ABSTRACT This study aims to determine the diversity of ants in cocoa (Theobroma cacao L.) ecosystems in six hamlets in the village of Banjaroya, District Kalibawang Yogyakarta. The sampling was carried out by the method of feeding ants using tuna and sugar solution, which is placed on the cacao tree and the ground surface; pit-fall traps; and direct- picking by hand. Six sub-family of ants, namely Cerapachynae, Dolichoderinae, Myrmicinae, Ponerinae, and Pseudomyrmicinae were found. Six of the most abundant genera found in each catchment were Dolichoderus sp., Anoplolepis sp., Paratrechina sp., Crematogaster sp., Pheidole sp., and Pheidologeton sp., which is known to be aggressive and invasive. The analysis showed that the diversity of ant communities in the Village Banjaroya categorized as medium (H ‘> 1-3), meaning that the overall state of the ecosystem of the cocoa crop was classified as stable or steady. Meanwhile, the results of the analysis of the dominance index (C) shows that the community of ants in each village tends was tended to be dominated by a single species (C close to 0). The relationship between habitat condition and the diversity of ant was discussed in this article. Key words: ant diversity, cocoa plantation INTISARI Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman semut pada ekosistem kakao (Theobroma cacao L.) di 6 dusun di Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang Yogyakarta. Pengambilan sampel semut dilakukan dengan metode pengumpanan menggunakan ikan tuna dan larutan gula yang diletakkan pada pohon kakao dan permukaan tanah; lubang perangkap; dan pemungutan dengan tangan. Enam subfamili semut, yaitu Cerapachynae, Dolichoderinae, Myrmicinae, Ponerinae, dan Pseudomyrmicinae telah ditemukan di lokasi pengambilan sampel. Enam genus yaitu Dolichoderus sp., Anoplolepis sp., Paratrechina sp., Crematogaster sp., Pheidole sp. dan Pheidologeton sp. yang dikenal agresif dan invasif, ditemukan paling melimpah di setiap dusun. Hasil analisis keragaman komunitas semut di Desa Banjaroya menunjukkan bahwa secara keseluruhan keadaan ekosistem pada tanaman kakao masih tergolong stabil atau mantap dikategorikan sebagai medium (H’>1-3). Sementara itu, hasil analisis indeks dominasi (C) menunjukkan bahwa komunias semut pada setiap dusun cenderung didominasi oleh satu spesies (C mendekati 0). Hubungan antara kondisi habitat dengan keragaman semut didiskusikan dalam tulisan ini. Kata kunci: ekosistem tanaman kakao, keragaman semut Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, Vol. 18, No. 2, 2014: 79–88 PENGANTAR Kakao adalah salah satu komoditas ekspor andalan penyumbang devisa bagi Indonesia di sektor non- migas. Luas areal tanaman kakao di Indonesia pada tahun 2000 mencapai 588.311 ha, terdiri dari areal perkebunan rakyat [447.812 ha (76,12%)], areal perkebunan besar swasta [81.994 ha (13,94%)], dan areal perkebunan besar Negara [58.505 ha (9,94%)]. Produksi nasional pada tahun 2000 diperkirakan sebesar 471.336 ton, dengan rincian 391.124 ton (82,98%) berasal dari perkebunan rakyat, 35.609 ton (7,55%) berasal dari perkebunan besar swasta, dan 44.603 ton (9,46%) berasal dari perkebunan besar negara (Anonim, 2000). Dua hama utama pada tanaman kakao di Indonesia adalah Penggerek Buah Kakao (PBK) Conopomorpha cramerella Snell. dan pengisap buah Helopeltis antonii (Hemiptera; Miridae). Serangan PBK dapat menyebabkan kerusakan buah dan kehilangan produksi biji sebesar 82,20% (Depparaba, 2002). Sementara itu, H. antonii juga menyerang tunas- tunas muda atau pucuk, selain buah. Serangan berat dan berulang-ulang pada pucuk dapat menekan produksi kakao sekitar 36-75% (Atmadja, 2003). Program pengembangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) lebih mengutamakan sistem pengendalian non-kimiawi termasuk pemanfaatan agens pengendalian