I-FINANCE Vol.05 No.01 Juli 2019 http://jurnal.radenfatah.ac.id/indez.php/i-finance Ani Triani dan Hari Mulyadi.......Peningkatan Pengalaman Keuangan Remaja 9 PENINGKATAN PENGALAMAN KEUANGAN REMAJA UNTUK LITERASI KEUANGAN SYARIAH YANG LEBIH BAIK Ani Triani 1 , Hari Mulyadi 2 1 Program Studi Magister Pendidikan Ekonomi, Universitas Pendidi/kan Indonesia, Bandung Email:ani3ani@upi.edu 2 Program Studi Pendidikan Manajemen Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Email:harimulyadi@upi.edu Abstrak The Islamic financial literacy index is 8.1% reported by the Financial Services Authority (OJK). It’s mean only 8 out of 100 Indonesians understand Islamic financial literacy, very low if it compared to 222 million or more than 87% of the Muslim population in Indonesia. The urgency of sharia financial literacy arises when great potential is apparent from increased assets, product variations, and increasingly comprehensive regulations. A series of programs were launched to meet the demands of increasing Islamic financial literacy, including education programs for young people. However, many studies show that educational programs that are run often lead to failure. Identification leads to a lack of traceability at the root of financial experience. The study is intended to collaborate ideas that can play a role in increasing sharia financial literacy among adolescents. Experience with money and parental teaching is a modality that is expected to improve it. The qualitative method was chosen in order to build an initial understanding and reconstruct it. The final result of the writing is the contribution of thought to the perspective of adolescent's financial experience which is expected to be able to increase Islamic financial literacy. This also made the teenagers act rationally in responding to money according to Islamic teachings. The truth of Islamic teachings should not only mean the success of the hereafter but also in this world. Keywords: financial experience, Islamic financial literacy, qualitative method. PENDAHULUAN Temuan diseluruh dunia mendapati tingkatan yang rendah untuk pengukuran literasi keuangan (Lusardi & Mitchell, 2011). Di New Zealand, kurang dari separuh siswa dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar (Cameron, Calderwood, Cox, Lim, & Yamaoka, 2014). Di Amerika Serikat, sebesar 27% atau kurang dari sepertiga dari subyek remaja berusia 12-17 tahun mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar (Lusardi, Mitchell, & Curto, 2010). Di Australia, subjek berusia rata-rata 16-17 yang tercatat sebagai siswa kelas 11 sekolah menengah di daerah pedesaan, regional dan metropolitan mencatat skor 62.8 dengan skor terendah sebesar 24.2 dari skala 100 (Ali, Anderson, McRae, & Ramsay, 2014). Di India, literasi keuangan yang rendah juga dilaporkan Killiyani (2016) dengan perolehan rata-rata jawaban benar responden dewasa muda sebesar 43.9%. Di Indonesia, hasil pengukuran literasi keuangan yang rendah turut dilaporkan dalam beberapa studi yang pernah dilakukan. Nidar & Bestari (2012) menunjukkan perolehan rata-rata skor untuk 24 faktor literasi keuangan yang diamati sebesar 42.10%. Temuan- temuan tersebut cukup mereprensentasikan hasil pada usia muda yang biasanya tidak jauh lebih melek keuangan daripada orang dewasa. Angka-angka di atas adalah gambaran literasi keuangan konvensional yang lazimnya memiliki hasil pengukuran lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan literasi keuangan syariah. Fakta ini turut dipertegas dengan hasil yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang melaporkan proporsi lebih rendah pada tingkatan literasi keuangan syariah. Hasil tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1 sebagai berikut.