Available online at: http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/kt Khazanah Theologia, Vol. 4 No. 1 (2022): 49-64 DOI: 10.15575/kt.v4i1.17871 *Corresponding Author Received: March 23, 2022; Revised: April 19, 2022; Accepted: April 29, 2022 Religious life in Indonesia in the Study of Post-Modernism Enkin Asrawijaya * Badan Riset dan Inovasi Nasional, Indonesia Email: enkinasrawijaya@gmail.com Abstract This paper discusses how the religious life in Indonesia in the perspective of postmodernism. This paper is a literature study with information taken from secondary data. Today, religious issues are increasingly difficult to understand and complicated. Physical to structural violence often appears in religious life in Indonesia. The existing pluralistic conditions also affect the aspect of harmony. This is what causes religious consistency to be disrupted, although not all of them lead to conflict, there are still people who uphold tolerance so that religious harmony can be maintained. Human inclination towards religion is due to human nature. However, sometimes there are what are commonly referred to as deviations and conflicts. These conditions ultimately lead to religious intolerance. The case that has occurred is the fact that the existing dialectical path is difficult to find a middle point. Postmodernism offers an attitude of "tolerance" by respecting the existence of religious plurality. This research contributes ideas for religious studies that continue to develop according to the conditions of the times through the view of the postmodernism paradigm. Keywords: Postmodernism; religion; tolerance. Abstrak Tulisan ini membahas bagaimana kehidupan keberagamaan di Indonesia dalam perspektif postmodernisme. Karya tulis ini merupakan studi kepustakaan dengan informasi yang diambil dari data sekunder. Dewasa ini persoalan keberagamaan semakin elusif dan rumit. Kekerasan fisik hingga struktural sering muncul dalam kehidupan keberagamaan di Indonesia. Kondisi pluralistik yang ada juga mempengaruhi aspek keharmonisan. Inilah yang menyebabkan konsistensi keberagamaan menjadi terusik, meskipun demikian tidak semua berujung pada konflik, masih ada masyarakat yang menjunjung tinggi tolerasi sehingga keharmonisan dalam keberagamaan dapat dipertahankan. Kecondongan manusia pada agama adalah karena kodrat manusia. Namun demikian, terkadang tampak apa yang lazim disebut sebagai penyimpangan dan konflik. Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya mengakibatkan intoleransi keberagamaan. Kasus yang telah terjadi merupakan fakta bahwa jalan dialektika yang sudah ada sulit untuk dicari titik tengah. Postmodernisme menawarkan suatu sikap “toleransi” dengan cara menghargai adanya pluralitas keagamaan. Penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran bagi studi keagamaan yang terus berkembang sesuai dengan kondisi zaman melalui pandangan paradigma postmodernisme. Kata Kunci: Postmodernisme; keberagamaan; toleransi.