Copyright© 2022 JURNAL EFATA: e-ISSN 2722-8215 | 105
ISSN
Rancang Bangun Pewartaan Injil pada Suku Nias
melalui Sanggar Tari
Eriyani Mendrofa
1
, Aji Suseno
2
, Carolina Etnasari Anjaya
3
1
Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara, Ungaran
2
Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia
3
Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta
Correspondence: mendrofaeriyani@gmail.com
Abstract: Evangelism in Nias is something that is rarely done considering that Christianity has become
the religion of the majority of the community. This religious status was obtained from birth because he
followed the religion of his parents. However, this does not guarantee that someone has accepted Jesus
as Lord and Savior, there are still churches that have not experienced being born again. That is why
evangelism is still done in order to experience the new birth and become a true Christian. From the
perspective of the Great Commission, preaching the gospel is a task that must be carried out by every
believer. How evangelism is carried out in Nias, how dance culture studios serve as doors for
evangelism, as well as the application of the Great Commission through culture are the main topics of
discussion in this paper. The method used is a literature study with qualitative analysis, using books and
research results on Nias. There are three stages of evangelism carried out, namely: introductions based
on friendship (Fahuwusa), associations packaged in the form of dance studio exercises (angowuloa),
and gospel preaching (Foturiaigo). The dance studio is an attraction for young Nias people to be willing
to spend time together. The meeting will be accompanied by a prayer meeting and spiritual guidance.
The purpose of this research can be used as a basis for preaching the gospel to the Nias people with a
cultural approach.
Keywords: church mission; culture approach; dance studio; evangelism; Nias island
Abstrak: Pewartaan Injil di Nias merupakan suatu hal yang jarang dilakukan mengingat agama Kristen
telah menjadi agama mayoritas masyarakat. Status agama tersebut diperoleh sejak lahir karena
mengikuti agama orangtua. Namun, hal itu tidak menjamin seseorang telah menerima Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamat, masih juga terdapat jemaat yang belum mengalami lahir baru. Itulah sebabnya
penginjilan tetap dilakukan agar mengalami kelahiran baru dan menjadi Kristen sejati. Dalam perspektif
Amanat Agung, pemberitaan Injil merupakan suatu tugas yang harus dilakukan oleh setiap orang
percaya. Bagaimana penginjilan dilakukan di Nias, dan seperti apa sanggar budaya tari menjadi pintu
penginjilan, serta penerapan Amanat Agung melalui budaya merupakan pokok pembahasan dalam
tulisan ini. Metode yang dipakai adalah studi pustaka dengan analisis kualitatif, menggunakan buku-
buku dan hasil penelitian tentang Nias. Ada tiga tahap penginjilan yang dilakukan yaitu: perkenalan
yang dilandasi dengan dasar persahabatan (fahuwusa), perkumpulan yang dikemas dalam bentuk
latihan sanggar tari (angowuloa), dan pemberitaan Injil (Foturiaigo). Sanggar tari merupakan daya tarik
bagi anak muda Nias agar bersedia meluangkan waktu berkumpul. Dalam pertemuan tersebut akan
disertai dengan persekutuan doa dan bimbingan rohani. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai
dasar untuk memberitakan Injil pada suku Nias dengan pendekatan budaya.
Kata kunci: misi gereja; Nias; pendekatan budaya; penginjilan; sanggar tari
PENDAHULUAN
Penginjilan sejatinya menjangkau orang yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan
yang ditandai dengan kelahiran baru. Setiap orang mengaku beragama namun belum lahir
baru masih perlu diinjili. Hal ini yang dilakukan Yesus ketika melayani di dunia yaitu
mengubah paradigma beragama serta habitual agamawi yang bertentangan dengan kehen-
e-ISSN 2722-8215
https://e-journal.sttiman.ac.id/index.php/efata Volume 8, No 2, Juni 2022 (105-114)