Pusat Studi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Indonesia
SRM Publishing – Sangia
OPEN ACCESS
Vol. 6 No. 2: 131-134
November 2022
Peer-Reviewed
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
EISSN 2598-8298 (online)
URL: https://ejournal.stipwunaraha.ac.id/ISLE
DOI: https://doi.org/10.29239/j.akuatikisle.6.2.131-134
Research Article
The social construction of fisherwomen towards underage
marriage in Sulaa Village, Betoambari District, Bau-Bau City,
Southeast Sulawesi
Konstruksi sosial perempuan nelayan terhadap pernikahan dibawah umur
di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau Sulawesi
Tenggara
Yusran Suhan, Sakaria Anwar, Nuvida Raf, Hasbi, Manyus Radjab, Muhammad Sabiq
Departement of Sosiology, Faculty of Social Science and Political Science, Hasanuddin University, Makassar, South Sulawesi, 90245,
Indonesia.
1. Pendahuluan
Perempuan pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan
materialnya pada umumnya sangat tergantung kepada lelaki
(suami) sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Akan tetapi
berbeda dengan perempuan nelayan berperan pada dua sektor yaitu
produksi dengan membantu mengolah dan memasarkan hasil
tangkap ikan dan bekerja pada sektor reproduksi yaitu mengurus
rumah tangga. Status sosial perempuan nelayan ditempatkan pada
posisi tertentu dan cenderung termarginalkan sehingga tidak
memiliki akses dalam proses dan pengambilan pengambilan
keputusan, adanya diskriminasi terhadap perempuan nelayan
mengakibatkan jam kerja perempuan nelayan di ranah publik dan
domestik semakin tinggi. Disisi lain terdapat hambatan
sosiokultural yang bersifat normatif bagi perempuan nelayan dalam
melakukan berbagai kegiatan di ranah publik.
Perempuan nelayan dalam aktivitas ekonomi antara lain dapat
terlihat dari alokasi waktu yang mereka curahkan. Alokasi waktu
yang dicurahkan oleh perempuan nelayan pada umumnya tidak
terbatas sejak dini pagi hari hingga pada malam hari. Peran
perempuan pada rumah tangga nelayan dapat terlihat melalui
keterlibatan mereka dalam kegiatan penangkapan perikanan,
pengelolaan ikan hingga penjualan ikan di pasar. Dalam keluarga
konvensional, suami bertugas mencari nafkah dan istri mengurus
rumah tangga. Tetapi, dengan tumbuhnya kesempatan bagi
perempuan bersuami banyaknya perempuan muda melakukan
pernikahan di bawah umur demi melangusngkan kehidupan yag
lebih mandiri dan lepas tanggung jawab orang tua.
Pernikahan di bawah umur ini merupakan diskursus klasik
yang sudah terjadi di masyarakat baik pada masyarakat perkotaan,
perdesaan juga pesisir. Masyarakat yang melakukan praktek
Article Info:
Diterima: 1 Oktober 2022
Disetujui: 17 November 2022
Dipublikasi: 19 November 2022
Keywords:
Konstruksi Sosial;
Perempuan Nelayan;
Habitus; Modal
Sosial/Budaya; Keluarga
Nelaya; Praktik Pernikahan
dibawah Umur
ABSTRAK. Praktik pernikahan dibawah umur terhadap perempuan nelayan didasarkan pada kondisi
sosial ekonomi dan budaya masyarakat dalam mengkonstruksi suatu fenomena sosial. Pernikahan
dibawah umur merupakan diskursus klasik yang sudah terjadi di masyarakat, baik pada masyarakat
perkotaan, perdesaan, juga pesisir. Masyarakat yang melakukan praktik pernikahan dibawah umur
biasanya telah dipengaruhi oleh konstruk-konstruk yang berkembang di masyarakat sekitar. Tulisan ini
menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan Purposive Sampling. Tipe penelitian yang
digunakan adalah deskriptif, dengan dasar penelitian studi kasus dan dokumen-dokumen (baik yang
berbentuk cetak maupun elektronik), serta sumber informasi lainnya yang dianggap relevan. Hasil studi
menunjukan bahwa Praktik pernikahan dibawah umur terjadi karena adanya habitus atau kebiasaan
yang diproduksi dari rendahnya kondisi perekonomian keluarga nelayan sehingga menganggap
pernikahan dibawah umur sebagai solusi bertahan hidup dan juga sebagai modal sosial dan modal
budaya yang dimiliki oleh keluarga nelayan, serta adanya praktik beli umur dan kuatnya pengetahuan
agama menjadi faktor pendukung praktik pernikahan dibawah umur subur terjadi di dearah tersebut.
Korespondensi:
Muhammad Sabiq
Program Magister Sosiologi,
Departement of Sosiology,
Hasanuddin University, Makassar,
South Sulawesi, 90245, Indonesia
muh.sabiq@unhas.ac.id
ABSTRACT. The practice of underage marriage to fisherwomen is based on the socio-economic and
cultural conditions of the community in constructing a social phenomenon. Underage marriage is a
classic discourse that has occurred in society, both in urban, rural and coastal communities. Communities
that practice underage marriages are usually influenced by the constructs that develop in the
surrounding community. This paper uses a type of qualitative research with a purposive sampling
approach. The type of research used is descriptive, based on case study research and documents (both
printed and electronic), as well as other sources of information deemed relevant. The results of the study
show that the practice of underage marriage occurs because of habitus or habits that are produced from
the low economic conditions of fishing families so that underage marriage is considered as a solution for
survival and also as social capital and cultural capital owned by fishing families, as well as the practice of
buying age and the strength of religious knowledge is a supporting factor for the practice of underage
marriages occurring in the area.
Copyright© November 2022, Suhan, Y., Anwar, S. Raf, Nuvida, Hasbi, H., Radjab, M., Sabiq, M.
Under License a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License